Kemenaker Buka Kejuruan Fashion Technology di BBPLK Semarang

Gervin Nathaniel Purba    •    Selasa, 26 Feb 2019 17:54 WIB
berita kemenaker
Kemenaker Buka Kejuruan Fashion Technology di BBPLK Semarang
Menaker Hanif Dhakiri saat saat berkunjung ke gedung studio kejuruan fashion technology di BBPLK Semarang, Jawa Tengah. (Foto; Dok. Kemenaker)

Semarang: Guna menjawab kebutuhan industri di bidang fesyen, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) membuka pelatihan kerja kejuruan fashion technology di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang. 

Pada jurusan ini, siswa tidak hanya diajari membuat kreasi produk, tetapi juga cara memasarkannya. Setelah lulus, siswa diharapkan siap masuk dunia kerja atau berwirausaha.

Pengembangan kejuruan fashion tecnology ini merupakan pengembangan dari jurusan menjahit di BBPLK Semarang. Semula, jurusan menjahit hanya menghasilkan lulusan pelatihan untuk menjadi penjahit dan operator mesin garmen.
 
Setelah dilakukan evaluasi dan pemetaan kebutuhan pada era milenial saat ini, maka dibuat transformasi kejuruan fashion technology yang dilengkapi fasilitas lengkap untuk menunjang profesionalisme di bidang industri fesyen.


(Foto: Dok. Kemenaker)

Pada jurusan ini, sub kejuruan yang dibuka adalah sub kejuruan menjahit pakaian anak-anak, menjahit pakaian wanita dewasa, pembuatan pakaian jadi, desainer busana kreasi, desainer busana produksi, dan operator bordir.
 
Melalui kejuruan fashion technology, siswa dikenalkan dengan berbagai bentuk kreasi untuk memahami pola konsumsi fesyen masyarakat sehari-hari. Dengan demikian mereka diharapkan dapat menghasilkan produk yang sesuai tren di masyarakat.

"Selama manusia masih memakai baju, maka industri fesyen akan selalu hidup. Peluang kerja ke depannya sangat lebar. Tinggal bagaimana mengembangkan inovasi dan kreativitas," ujar Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri, saat meresmikan gedung sekaligus workshop studio kejuruan fashion technology di BBPLK Semarang, Jawa Tengah, Selasa, 26 Februari 2019.

Dari 16 subsektor industri kreatif, industri fesyen menempati urutan ketiga setelah subsektor kuliner dan kriya. 

Tercatat, industri fesyen menyumbang devisa negara sebanyak USD8,2 miliar (Rp122 triliun) dan menempati urutan kedua produk terlaris di e-commerce.

Menaker berpesan kepada peserta pelatihan supaya jangan terlena dengan keterampilan yang dimiliki. Sebab, perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat keterampilan yang diperlukan juga berubah dengan cepat. 

"Kalau kita punya skill hari ini bukan berarti aman, karena skill kita bisa berarti tidak relevan suatu saat nanti. Jangan merasa aman, harus terus meningkatkan kompetensi," ujarnya.

Untuk memfasilitasi pekerja kelas bawah yang ingin meningkatkan skill, Hanif meminta BBPLK Semarang untuk membuka kelas Sabtu-Minggu dan kelas malam.

"Dengan demikian mereka mendapat akses yang baik guna meningkatkan skill yang nantinya dapat digunakan untuk meningkatkan pekerjaan mereka," kata Hanif.

Pelatihan di BLK tidak ada batasan usia dan pendidikan. Artinya, lulusan apa saja dan berapa pun usianya dapat mengikuti pelatihan. Bagi peserta dari luar kota dapat mengikuti pelatihan melalui Program Boarding, akomodasi selama pelatihan akan ditanggung oleh pemerintah alias gratis.


(ROS)