Kisah Guru SMK Pencipta Becak Tenaga Surya

Ahmad Mustaqim    •    Senin, 26 Feb 2018 20:41 WIB
teknologi
Kisah Guru SMK Pencipta Becak Tenaga Surya
Raden Sunarto, Guru SMK Pira 1 Yogyakarta yang menciptakan becak bertenaga surya. Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim

Yogyakarta: Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Piri 1 Yogyakarta menciptakan becak listrik bertenaga sinar matahari. Adalah Raden Sunarto yang menciptakan becak tenaga surya yang ramah lingkungan itu.

Sunarto mengatakan, pembuatan becak tenaga surya itu dimulai pada 2012. Hal itu bermula saat ia dipanggil Kementerian Riset dan Teknologi untuk menerangkan terus berkurangnya bahan bakar minyak dalam 20 tahun ke depan. Energi dari bahan fosil itu hanya dapat digantikan tenaga yang lebih ramah lingkungan dan terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan ombak.

"Saya dipamerin bus dan mobil listrik waktu itu," ujar Sunarto di SMK Piri 1 Yogyakarta pada Senin, 26 Februari 2018.

Sunarto ditantang menciptakan sesuatu yang menggunakan energi terbarukan. Dirinya saat itu menjawab bakal membuat becak bertenaga listrik yang memanfaatkan sinar matahari.

Diciptakan dalam tiga bulan

Pembuatan becak tenaga surya itu ia mulai pada Juni 2012. Sunarto menghabiskan waktu sekitar tiga bulan untuk membuat becak bertenaga surya itu. "Lalu saya presentasikan ke Kementerian (Ristek)," kata dia.

Saat itu, becak bertenaga surya generasi pertama berpanel surya dengan kekuatan 40 watt. Panel surya itu dipasang di salah satu sisi becak yang bisa menerima langsung sinar matahari.

Tenaga listrik dari panel surya itu tersambung ke empat buah aki yang bisa menampung daya hingga 104 Ah. Becak bisa digerakkan dengan motor listrik berkekuatan 350 watt. Becak listrik tenaga surya buatannya bisa berlari dengan kecepatan 30 kilometer per jam.

"Jarak tempuh kalau malam hari bisa 40 kilometer. Kalau pas siang cuaca cerah, bisa lebih dari 60 kilometer," katanya.

Meski demikian, menurut dia, hal itu juga tergantung pada perlakuan pengendara becak. Misalnya, saat parkir becak bisa ditempatkan di lokasi yang terkena sinar matahari. Kendati sudah tersambung dengan tenaga surya, becak masih tetap bisa dikayuh secara manual.

"Ketika jalan tanjakan atau awal menjalankan mesin harus dibantu dengan mengayuh terlebih dahulu," tuturnya.

Terus dikembangkan

Setahun berselang, Sunarto membuat becak tenaga surya generasi kedua. Elemen dan cara kerja becak juga masih dibuat sama. Bedanya, Sunarto menambah daya tampung listrik dari sinar matahari.

Jika sebelumnya hanya berkekuatan 40 watt, kemudian ia ubah menjadi 50 watt. Sementara, panel surya diletakkan di bagian atas becak. Becak bertenaga surya generasi kedua ini dibuat sebanyak 10 unit. Ia menyebut, biaya pembuatan becak generasi disokong Kementerian Ristek.

"Habis becak dihibahkan ke sekolah, lalu kami sewakan ke tukang becak di Yogyakarta dan beberapa hotel," tutur lelaki berusia 52 tahun ini.

Pihaknya mematok harga sewa becak Rp70 ribu per minggu. Ia memperkirakan, becak tersebut membantu 70 persen dari total tenaga yang dikeluarkan tukang becak.

Meski becak itu merupakan hasil ciptaannya, Sunarto menyilakan siapa saja yang ingin menduplikasi. "Tak ada rencana untuk saya jadikan hak paten," ucapnya.

Sujatno, seorang pengayuh becak, mengaku sudah menyewa becak bertenaga Surya selama lima bulan. Ia mengatakan cukup terbantu.

Menurut dia, pelanggan yang sebagian wisatawan mancanegara lebih nyaman saat menaiki becaknya. "Dibanding manual atau becak motor, katanya lebih nyaman becak listrik (tenaga surya), ndak bising suaranya," ungkap lelaki asal Wonogiri, Jawa Tengah ini.

 


(SUR)