Danang Minoritas, tapi Bahagia di Tengah Muslim

Rhobi Shani    •    Jumat, 19 May 2017 19:19 WIB
toleransi beragama
Danang Minoritas, tapi Bahagia di Tengah Muslim
Kegiatan hajatan di lingkungan tempat tinggal Danang--MTVN/Rhobi--

Metrotvnews.com, Jepara: Danang Kristiawan adalah minoritas. Dia berbeda keyakinan dari kebanyakan warga rukun tetangga 02, rukun warga 05, Kelurahan Bapangan Kecamatan Jepara Kota Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Tapi, Danang tak pernah merasa cemas.

Danang hidup guyub dengan warga lainnya. Dia tak pernah dilupakan ketika tetangga punya hajat. Danang selalu diundang. Pun ketika bulan Ruwah (penanggalan Jawa), ketika Muslim di lingkungannya menggelar Ruwahan--selamatan mengirim doa untuk para leluhur dan anggota keluarga yang sudah meninggal.

“Bulan Ruwah ini, sering mendapat berkat Ruwahan dari tetangga. Hampir tiap hari bisa sampai tiga kiriman berkat,” tutur Danang, Jumat 19 Mei 2017.
 
Tak hanya mendapat kiriman berkat, Danang melanjutkan, ketika ada tetangga yang menggelar hajat peringatan 40 hari atau 100 hari meninggalnya anggota keluarga, dia selalu mendapat undangan. Sebagai pendeta, Danang mengaku, tidak canggung berada di tengah acara hajatan bernuansa islami.
 
“Kalau memang saya di rumah dan tidak acara lain, saya pasti datang,” kata Danang.
 

Danang (baju hitam lengan panjang) hadir di acara kendur Syafaat--MTVN/Rhobi--

Nama Danang cukup dikenal tetangga. Terbukti saat Metrotvnews.com, bertanya kepada tetangga yang berjarak lebih kurang 100 meter dari rumah Danang, banyak warga yang mengenalnya.
 
“Di daerah-daerah yang unsur budayanya masih kuat, hubungan antarumat beragama juga baik. Seperti di sini, unsur budaya Jawa masih kental,” terang Pendeta Geraja Injili Tanah Jawi (GITJ) Jepara.
 
Hal senada juga disampaikan guru sejarah M. Nuh Thabroni. Ketika unsur kebudayaan masih melekat di masyarakat, maka kerukunan antarumat akan terjaga.
 
Thabroni mencontohkan Ruwahan. Dimana hajat tersebut merupakan akulturasi Hindu-Islam di tanah Jawa. Sebelum Islam masuk ke Jawa, masyarakat sudah memiliki budaya berkirim doa untuk arwah leluhur.
 
“Kemudian Islam masuk budaya ritual itu tidak dihilangkan, tapi ditempatkan di bulan Sya’ban. Masyarakat Islam-Jawa kemudian menyebutnya Arwahan atau Ruwahan,” terang Thabroni.
 
“Sebetulnya budaya itu di Islam tidak ada. Juga hajatan peringatan 40 hari, 100 hari, atau 1.000 hari orang meninggal. Budaya ini hanya ada di Jawa, di Nusantara, di Indonesia dan itu terbukti mampu menjaga kerukunan antarumat,” tandas mantan Ketua Lebaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Jepara.



(ALB)