Kisah Hijrah Purnama Ubah Sampah Plastik Bernilai Ekonomi

Ahmad Mustaqim    •    Rabu, 05 Dec 2018 18:40 WIB
Tumpukan Sampah Plastik
Kisah Hijrah Purnama Ubah Sampah Plastik Bernilai Ekonomi
Salah satu sudut di Butik Daur Ulang di Sleman, Medcom.id - Mustaqim

Yogyakarta: Sampah plastik masih menjadi masalah di tingkat masyarakat. Perilaku konsumtif yang tinggi berimbas langsung dengan keberadaan sampah plastik. 

Di Sleman, Yogyakarta, kelompok Project B Indonesia mengolah sampah dan bisa memberikan manfaat ke banyak orang. Sosok bernama Hijrah Purnama bersama tiga kawannya memulai pengolahan sampah plastik sejak 2008. 

Kisah itu dilakukan ketika Hijrah masih menjadi mahasiswa Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dan sering berada di warung Burjo. Melihat banyak sampah, ia mengaku gelisah. Sebab penghasil sampah hanya mengumpulkan dan membuang atau membakar. 

"Ya ada kegelisahan dengan banyaknya sampah plastik. Lalu saya bersama teman mulai memilah sampah plastik yang diangkut seminggu sekali," kata Hijrah kepada Medcom.id, Rabu, 5 Desember 2018. 


(Tas belanja hasil karya Project B mendaur ulang sampah plastik di Sleman, Medcom.id - Mustaqim)

Menurut Hijrah, upaya mengumpulkan sampah itu berlangsung hingga sekitar 2010. Melihat banyaknya sampah, ia memikirkan cara pengolahanya. 

Pada tahun itu juga, sampah-sampah terkumpul itu dibuat menjadi berbagai macam kerajinan. Setelah sampah dipilah dan dibersihkan, kemudian dibuat menjadi berbagai kerajinan, seperti dompet, tas, tas belanja, tas laundry, hingga tutup kulkas. Produksi dilakukan di kawasan Perumahan Banteng Jalan Kaliurang Km 7 Sleman. 

"Sampai sekarang sudah ada 145 jenis item hasil kerajinan yang kami produksi," kata lelaki berusia 35 tahun ini. 

Ada sebanyak 350 kelompok yang memasok sampah plastik. Anggota kelompok didominasi berasal dari golongan perempuan. Jumlahnya, ada sekitar 1500 orang, baik dari Sleman, Kota Yogyakarta, hingga Bantul. 

Di pengolahan sampah, ada sebanyak 20 orang yang terlibat. 10 orang berada di bidang produksi, sisanya menjalankan fungsi manajemen, promosi, dan penjualan. 

"Kami bikin sekarang memang seperti home industri. Orang yang bekerja mendapatkan upah, yang memberikan sampah memiliki tabungan dari sampahnya," kata dia. 

Berbagai macam kerajinan sampah itu mereka jual lewat butik berisi hasil daur ulang sampai di Jalan Sukoharjo 132 Condongcatur, Kecamatan Depok, Sleman. Harga harga per unit mulai Rp6 ribu hingga ratusan ribu rupiah. 

Menurut dia, masyarakat sebagian sudah mengetahui soal sampah plastik dan slogan memperlakukannya, reduce, reuse, and recycle (3R). Meski begitu, pengetahuan itu belum diikuti dengan perilaku keseharian. 

Hijrah mengaku masih hampir tiap bulan menyosialisasikan pengolahan sampah ke tingkatan RT dan RW. Menurutnya, perlu waktu panjang agar masyarakat ramah dengan bagaimana memperlakukan sampah plastik. 

"Dalam kehidupan masyarakat, tak semua sampah bisa didaur ulang. Saya kira, masalah sampah ini harus dilakukan dengan menegakkan aturan pemerintah. Atau pemerintah bisa membatasi pemakaian plastik," ungkapnya. 



(RRN)