IST Akprind Tak Bakal Cabut Gelar S1 Dwi Hartanto

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 10 Oct 2017 22:14 WIB
IST Akprind Tak Bakal Cabut Gelar S1 Dwi Hartanto
Ketua Senat Akademik IST Akprind, Syaiful Huda (kiri ke kanan); Rektor IST Akprind Yogyakarta, Amir Hamzah; Ketua Yayasan Pembina Potensi Pembangunan, Sagoro Wedy. Foto: MTVN/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Dwi Hartanto, alumni Institut Sains dan Teknologi Akademi Perindustrian (IST Akprind) Yogyakarta membuat heboh publik dengan kebohongan yang dia sampaikan. IST Akprind memastikan tak akan mencabut gelar sarjana yang telah diberikan ke Dwi.

"Tidak ada langkah membatalkan ijazah. Kejadian bukan sebagai tanggung jawab lembaga. Dwi melakukan kebohongan lebih dari 10 tahun lalu setelah lulus," kata Rektor IST Akprind Yogyakarta, Amir Hamzah pada Selasa, 10 Oktober 2017.

Amir menegaskan kebohongan Dwi bukan berkaitan langsung dengan aktivitas akademik di IST Akprind. Institusi pendidikan tersebut pun tak akan mengambil langkah hukum.

Dwi tak banyak terlibat dalam kegiatan ikatan alumni IST Akprind. Bahkan pengurus alumni tak tak memiliki kontak Dwi Hartanto. "Kalaupun mengambil langkah akan lebih ke kita sendiri (personal)," katanya.

Amir mengakui, pendidikan sejatinya harus mengutamakan kejujuran. Ilmuwan boleh salah, namun tidak boleh berbohong.

Ketua Yayasan Pembina Potensi Pembangunan, Sagoro Wedy menambahkan, kebohongan Dwi Hartanto tak ditindak secara akademik. Lain soal jika cara mendapatkan ijazah S1 di IST Akprind lewat cara curang. "Selain di luar (kegiatan kampus) itu bukan tanggung jawab kita," ujarnya.

Ketua Senat Akademik IST Akprind, Syaiful Huda menyatakan kampus akan melakukan introspeksi dan evaluasi di internal. Pengajaran etika bertektonologi dan riset di perkuliahan juga akan diberikan ke depan.

Dwi Hartanto berbohong memiliki kompetensi dan latar belakang keilmuan di bidang teknologi kedirgantaraan atau Aerospace Engineering seperti teknologi roket, satelit dan pesawat tempur. Dwi yang saat ini menempuh S2 di Technische Universiteit (TU) Delft, Belanda, sempat memperoleh penghargaan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag. Namun, penghargaan itu dicabut usai kebohongannya terkuak.

Dwi juga sempat berbohong berkaitan dengan BJ Habibie ingin menemuinya. Bahkan Dwi juga berbohong soal tawaran Pemerintah Belanda mengganti kewarganegaraan dirinya.
(SUR)