Muhammadiyah dan Keraton Bisa Berakselerasi Ciptakan Keserasian

Ahmad Mustaqim    •    Sabtu, 18 Nov 2017 15:11 WIB
muhammadiyahyogyakarta
<i>Muhammadiyah dan Keraton Bisa Berakselerasi Ciptakan Keserasian</i>
(kiri-kanan): Peneliti asal Jepang Profesor Mitsuo Nakamura, Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, dan cucu Ahmad Roemadi -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Yogyakarta: Hubungan Muhammadiyah dengan Keraton Yogyakarta sudah terjalin sejak 1912. Saat itu, menjadi masa awal berdirinya Muhammadiyah dan Keraton Yogyakarta yang dipimpin Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

"Muhammadiyah lahir di Yogyakarta, memiliki kedekat dengan keraton. Muhammadiyah dan keraton bisa berakselerasi menciptakan keserasian revolusi mental," kata Raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat peringatakan milad ke-105 Muhammadiyah di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Jumat malam, 17 November 2017.

Sultan mengatakan bahwa dukungan moral hingga materiil diberikan Keraton Yogyakarta kepada Muhammadiyah untuk mengembangkan organisasi berbasis keagamaan ini. Bahkan, dukungan itu masih berlangsung hingga saat ini.

Tidak heran, jika Sri Sultan Hamengku Buwono kemudian diganjar `Muhammadiyah Award`. "Penghargaan semata kepada pendahulu saya. Seperti pesan pendiri Muhammadiyah, Kiai Haji Ahmad Dahlan, 'Dadio kiai kang kemajuan. Aja kesel nyambut gawe kanggo Muhammadiyah' (Jadilah kiai yang berkemajuan, jangan lelah bekerja untuk Muhammadiyah). Pesan ini masih relevan hingga kini," kata Sultan.

Menurut Sultan, milad ke-105 Muhammadiyah dapat dijadikan momentum untuk semakin mengeratkan hubungan dengan Keraton Yogyakarta. Muhammadiyah dengan latar belakang Islam dan Keraton Yogyakarta dengan kebudayaan serta sejarah Mataram Islam, bisa memberi warna bagi kemajemukan Indonesia.

"Saya berharap, dengan penghargaan ini bisa menjalankan amanat dengan baik," ungkapnya.

`Muhammadiyah Award` juga diberikan kepada peneliti asal Jepang Profesor Mitsuo Nakamura. Ia meneliti perkembangan Muhammadiyah sejak 1970 dengan lokasi di Kotagede, Yogyakarta. Hasil penelitian itu dibukukan dengan judul 'Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin (Studi tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede)'.

Penerima `Muhammadiyah Award` lainnya adalah Ahmad Roemani, seorang pejuang sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama (NU) kelahiran Demak, Jawa Tengah. Semasa hidup, Roemani mewakafkan tanahnya untuk bidang usaha Muhammadiyah. Tanah wakaf itu hingga kini menjadi Rumah Sakit Roemani milik Muhammadiyah di Semarang.


(NIN)