Mary Jane Nyanyikan Indonesia Raya, Widodo: Saya Terenyuh

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 23 Sep 2016 12:20 WIB
mary jane
Mary Jane Nyanyikan Indonesia Raya, Widodo: Saya Terenyuh
Terpidana mati kasus narkotika asal Filipina Mary Jane Fiesta Veloso saat membatik di LP Wirogunan, Yogyakarta (Foto: MTVN/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM Widodo Ekatjahjana mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Wirogunan, Yogyakarta, Jumat 23 September. Widodo menemui dan berbincang dengan sejumlah narapidana termasuk terpidana mati kasus narkotika asal Filipina Mary Jane Fiesta Veloso.

Widodo sempat berbincang dengan sejumlah tahanan pria dan wanita. Namun, suasana emosional terjadi saat Widodo berbincang dengan Mary Jane.

Widodo bertanya pada wanita yang fasih berbahasa Indonesia itu apakah bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mary Jane pun mengaku hapal lalu menyanyikan Indonesia Raya sambil terbata-bata.

"Saya terenyuh (saat Mary Jane menyanyikan Indonesia Raya)," kata Widodo Ekatjahjana usai bertemu Mary Jane di Lapas Wirogunan, Yogyakarta, Jumat (23/9/2016).

Widodo mengaku kunjungannya tak berkaitan dengan kedatangan Presiden Filipina Rodrigo Duterte beberapa waktu lalu. Saat berbincang dengan Presiden Joko Widodo, Duterte mempersilakan pemerintah Indonesia mengeksekusi Mary Jane.

"Tidak ada kaitannya dengan Mary Jane dan kunjungan Duterte," ujar dia.

Widodo mengaku tak sengaja bersua dengan Mary Jane saat memasuki sel tahanan wanita. Saat bertemu, Widodo melihat Mary Jane sedang mempersiapkan batik yang akan dipamerkan di Jakarta. 

Menurut Widodo, kehadirannya ke Lapas Wirogunan dalam rangka menyiapkan review Undang Undang Pemasyarakatan dan Rencana Peraturan Pemerintah Tata Kelola Tahanan. Dalam dua bulan terakhir, ia mengaku sudah mengunjungi sejumlah Lapas di Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat.

"Kita ingin membenahi sistem tata kelola rumah tahanan dan pemasyarakatan agar lebih baik, karena selama ini dinilai masih ada kelemahan," kata dia.

Ia menambahkan, pemerintah mewacanakan menghilangkan hukuman mati. Namun, hal itu dengan catatan proses hukum tersangka bisa justice collaborator atas kasus yang lebih besar.

"Ini masih dikaji. Selama ini kasus narkoba (dihukum berat), sementara korupsi belum memperoleh hukuman berat," pungkas dia.


(TTD)