Dana Tanggap Banjir Pemkot Pekalongan Menipis

Kuntoro Tayubi    •    Jumat, 25 May 2018 19:11 WIB
banjir rob
Dana Tanggap Banjir Pemkot Pekalongan Menipis
Foto dari udara kondisi warga yang terkena dampak rob di Pekalongan, Kamis 24 Mei 2018, Ant - Harviyan Perdana Putra

Pekalongan: Dana tanggap darurat untuk penanganan korban banjir di Pekalongan, Jawa Tengah, menipis. Pemerintah Kota Pekalongan pun berharap uluran tangan donatur untuk membantu menangani korban banjir rob. Hingga berita ini dimuat, lebih 3.000 warga Pekalongan mengungsi.

Sekretaris Daerah Kota Pekalongan, Sri Ruminingsih mengaku dana tanggap darurat Pemerintah Kota Pekalongan saat ini hanya tersisa sekitar Rp300 juta. Karena dana tanggap darurat yang dimiliki Pemkot sebesar Rp2 miliar, sebagian besar telah digunakan untuk pembangunan pasar darurat Banjarsari, yang terbakar pada akhir Februari lalu.

“Anggaran dana tanggap darurat Kota Pekalongan itu sebesar Rp2 miliar, tapi sudah digunakan untuk pembangunan pasar darurat sebesar Rp1,5 miliar, untuk kegiatan pas kejadian pasar terbakar itu sekitar Rp200 juta. Sehingga, tersisa Rp300 juta,” katanya saat sihubungi, Jumat 25 Mei 2018.

Sri menyebutkan, sekitar dua ribu lebih warga dua kecamatan yang terdampak, yakni Kecamatan Pekalongan Utara dan Pekalongan Barat, saat ini mengungsi di beberapa titik. Di antaranya ada di kantor Kecamatan Pekalongan Utara, SD Panjang Wetan 3, Rusunawa Panjang Baru, Gor Jetayu, Stadion Hoegeng, aula Kelurahan Kandang Panjang, dan sejumlah titik lainnya.

“Banyak juga warga yang tidak mau mengungsi. Mereka tidur ditempat yang masih kering, disekitar rumah mereka,” tambahnya.

Untuk memenuhi kebutuhan makan ribuan pengungsi tersebut, dikatakan Sri, pihaknya mendirikan satu dapur umum di posko induk pengungsian di Gor Jetayu. Selain itu, bahan pangan untuk dapur umum yang didirikan warga juga di suplay dari posko induk.

“Semua kami koordinir disini, di posko induk. Agar semua kebutuhan makanan bisa terpenuhi. Kami sediakan nasi bungkus, untuk kebutuhan makan sahur dan buka puasa,” ujarnya.

Namun, Sri mengungkapkan kekhawatirannya karena keterbatasan dana yang dimiliki Pemkot. Sehingga belum bisa memenuhi semua keperluan pengungsi atau warga yang terdampak. Karena saat ini kebutuhan selimut, obat-obatan, kebutuhan bayi dan balita juga sangat terbatas.

“Harapannya, agar para donator, baik dari masyarakat yang peduli, organisasi maupun dari provinsi agar mau membantu kami,” pungkasnya.


(RRN)