Kemarau, Harga Air Bersih Naik Dua Kali Lipat

Ahmad Mustaqim    •    Rabu, 12 Sep 2018 17:31 WIB
kekeringan
Kemarau, Harga Air Bersih Naik Dua Kali Lipat
ilustrasi Medcom.id

Gunungkidul: Musim kemarau di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta belum lagi usai. Kondisi itu diperparah dengan harga air bersih yang biasa dibeli sekitar Rp130 ribu per tangki, kini mencapai Rp300 ribu lebih. 

Situasi ini terjadi di Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul. Kondisi wilayah yang berada di perbukitan membuat wilayah ini mengalami krisis air parah. Di sisi lain, persediaan air hujan di penampungan warga perlahan telah habis. 

"Dari 1.321 KK (kepala keluarga), 150 KK di antaranya mengalami kesulitan air parah. Mereka harus membeli dengan harga yang mahal sekali," kata Kepala Desa Mertelu, Tugiman saat dihubungi Medcom.id, Rabu, 12 September 2018. 

Ia mengatakan harga air bersih dari tangki swasta meningkat drastis, bahkan dua kali lipat. Warga, kata dia, harus merogoh uang Rp350 ribu untuk setangki air bersih. 

Jika dibandingkan di luar wilayah itu, harga air bersih per tangkinya masih sekitar Rp120 ribu hingga Rp150 ribu. "Medannya ke wilayah kami memang lumayan sulit. Tidak semua sopir berani mengemudi ke sini," ujarnya. 

Menurut Tugiman, warga terpaksa harus sangat hemat dalam penggunaan air. Selama ini, ia menambahkan, sumber air menjadi kendala tersendiri di wilayahnya. Pipanisasi sebagai sarana penyaluran air bersih juga sulit menjangkau kawasan tersebut. 

Sebanyak 54 desa di 12 kecamatan di Kabupaten Gunungkidul terdampak kekeringan pada musim kemarau 2018. Dari data wilayah itu, ada sebanyak 117 ribu jiwa terdampak kekeringan. 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki mengakui kawasan Desa Mertelu cukup sulit diakses mobil. Jalanan ke kawasan tersebut menapaki Medan terjal dan menanjak. "Hanya sopir tertentu yang berani," katanya.


(ALB)