Punya Mobil 4, Siswa PPDB di Jepara Didiskualifikasi

Rhobi Shani    •    Selasa, 10 Jul 2018 15:54 WIB
pendidikan
Punya Mobil 4, Siswa PPDB di Jepara Didiskualifikasi
Home visit untuk memastikan SKTM dalam proses PPDB

Jepara: Seorang siswa didiskualifikasi dari Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMAN 1 Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Siswa tersebut terbukti menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang tidak sesuai.

Kepala SMA Negeri 1 Mayong, Ngaripah, menyampaikan, pada Minggu, 8 Juli 2018, pihaknya berkunjung ke rumah masing-masing calon siswa. Kunjungan dilakukan untuk memastikan SKTM yang digunakan untuk mendaftar sesuai untuk peruntukannya.

“Hasilnya ada lima yang tidak sesuai. Masa punya mobil empat punya SKTM,” kata Ngaripah, Selasa, 10 Juli 2018.

Baca: Menyalahgunakan SKTM, Siswa Bisa Didiskualifikasi

Selain mendatangi rumah, tim validasi yang dibentuk sekolah juga mensurvei ke tetangga. Kondisi rumah juga difoto untuk dijadikan lampiran laporan ke panitia PPDB provinsi.

“Ada 44 calon siswa yang menggunakan SKTM. Lima calon siswa yang menggunakan SKTM tidak sesuai otomatis langsung dicoret oleh sistem,” kata Ngaripah.

Terpisah, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Jepara, Udik Agus menyebutkan, standar tidak mampu yang ditentukan sekolah tidak berdasarkan kriteria badan pusat statistik. Melainkan kesepakatan bersama kepala sekolah. Ada beberapa poin yang jadi kesepakatan bersama.  

“Kami menggunakan standar orang tidak mampu secara global. Itu dilihat dari sisi kelayakan. Kemudian perhitungan penghasilan dan pengeluaran. Sisi kepemilikan dan tanggungan hidup juga kondisi kesehatan,” terang Udik yang juga menjabat kepala SMA Negeri 1 Jepara.

Udik melanjutkan, sebelum dilakukan home visit, seluruh orangtua calon siswa dikumpulkan untuk diberi penjelasan. Jika diketahui menggunakan SKTM tidak sesui peruntukannya, secara otomatis nama siswa langsung dicoret. Selain itu, orantua calon siswa juga diminta mengisi surat pernyataan, bahwa SKTM yang digunakan benar-benar sesuai.

“Kalau di tempat kami ada 17 siswa yang mendaftar menggunakan SKTM. Semuanya sudah kami validasi, verifikasi, dan home visit,” pungkas Udik.




(ALB)