BBPOM Yogyakarta Soroti Kinerja Apoteker

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 16 Sep 2016 17:21 WIB
obat palsu
BBPOM Yogyakarta Soroti Kinerja Apoteker
Petugas gabungan dari BPOM DKI, Ditreskrimsus Polda Metro Jaya dan Dinas Kesehatan DKI melakukan razia obat ilegal di Pasar Pramuka, Jakarta, Rabu (7/9/2016). Foto: MI/Galih Pradipta

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Daerah Istimewa Yogyakarta menyoroti kinerja apoteker di setiap apotek yang ada di Yogyakarta. 

Ini dilakukan karena BBPOM masih menemukan dokumen obat yang diperjualbelikan belum terisi lengkap. "Kami menemukan (dokumen obat) tak diisi lengkap oleh penanggung jawabnya (apoteker)," kata Kepala BBPOM DIY, I Gusti Ayu Adhi Aryapatni, saat dihubungi Metrotvnews.com, Jumat (16/9/2016).

BBPOM juga masih menemukan obat kedaluwarsa yang dijual. Menurutnya, hal itu merupakan kelalaian yang dilakukan penjaga apotek.

"Biasanya ada satu obat botolan kedaluwarsa yang terselip. Ini karena ada kelalaian. Perlu peningkatan kejelian penjaga dan apoteker," ujarnya.

Gusti mengatakan selama pengawasan, hingga saat ini instansinya belum menemukan adanya peredaran obat ilegal di 400-an apotek yang tersebar di DIY. Tapi, jika ada pelanggaran, pihaknya bakal memberikan rekomendasi sesuai kategori pelanggarannya, mulai teguran, teguran keras, serta pembinaan.

"Temuan obat ilegal biasanya di luar apotek. Biasanya obat tradisional yang dijual di warung-warung," ujarnya.


Petugas menggerebek toko obat yang menjual obat ilegal di Jakarta. Foto: Antara/Rosa Panggabean

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setyamingastuti, mengatakan instansinya sampai saat ini juga belum pernah menemukan atau memperoleh informasi peredaran obat-obatan ilegal di apotek. Namun, lanjutnya, jika itu terjadi bisa saja apotek yang bersangkutan diberikan sanksi.

"Sanksi terberatnya izin operasi apotek dicabut. Ini bagi yang menjual obat terlarang tanpa izin resmi. Tapi kewenangannya ada di pemerintah kabupaten/kota dan sanksinya dibahas antarlembaga terkait," ucapnya.

Ia juga mengaku telah mengumpulkan petugas farmasi di setiap rumah sakit agar memilih distributor obat yang resmi. Hal itu untuk menghindarkan publik dari ancaman obat ilegal.

Sebelumnya, tim gabungan Bareskrim dan Badan Pengawas Obat dan Makanan menemukan lima gudang produksi dan distribusi besar obat ilegal di Kompleks Pergudangan Surya Balaraja, Balaraja, Banten pada 2 September. Tim menyita seisi gudang dan menyegel gudang itu.

Kepala BPOM Penny K. Lukito mengatakan mayoritas temuan adalah obat yang menimbulkan efek halusinasi. Tim juga menemukan obat tradisonal tanpa izin edar dan mengandung bahan kimia berbahaya dengan berbagai merek, yaitu Pae, African Black Ant, New Anrant, Gemuk Sehat, dan Nangen Zengzhangsu.

Dari lima gudang di Balaraja, tim gabungan menyita alat-alat produksi obat ilegal yakni mixer, mesin pencetak tablet, mesin penyalut, mesin stripping, dan mesin filling. Selain itu, tim menemukan bahan baku obat, bahan kemasan, obat jadi, dan obat tradisional siap edar bernilai lebih dari Rp30 miliar.

 


(UWA)