Ojek Pangkalan di Solo Siap Go Online

Pythag Kurniati    •    Sabtu, 21 Jan 2017 10:08 WIB
gojek
Ojek Pangkalan di Solo Siap <i>Go Online</i>
Proses perekrutan sopir Go-Jek. Foto: Antara/Fikri Yusuf

Metrotvnews.com, Solo: Pengemudi ojek pangkalan bersedia beralih menjadi ojek daring jika ada perusahaan aplikasi yang bisa menampung mereka. Hal ini dinilai sebagai cara untuk bersaing dengan ojek online yang sudah mapam macam Go-Jek.

"Kami semua siap (beralih) jika ada perusahaan yang menawarkan penggunaan aplikasi ojek online," kata Ketua Paguyuban Ojek Pangkalan Solo Raya, Suharto, usai mengikuti audiensi di Balai Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (20/1/2017).

Suharto menyadari persaingan dalam dunia usaha tak bisa dihindari. "Ojek pangkalan muncul lebih dulu, namun tidak memiliki aplikasi seperti yang digunakan Go-Jek. Itu kelebihan mereka (Go-Jek)," kata dia.
 
Jika terus bertahan dengan sistem ojek konvensional, dia yakin akan kalah dalam persaingan. "Pendapatan bisa turun 50 hingga 70 persen" ujarnya. 

Sayangnya, keinginan itu jauh panggang dari api. “Belum ada pihak yang menawarkan penggunaan aplikasi online kepada kami,” kata Suharto.

Saat ini terdapat 430 sopir ojek konvensional yang tersebar di 230 pangkalan di Kota Solo.


Audiensi Wali Kota Solo dan Kapolresta Solo dengan perwakilan ojek pangkalan, Jumat (20/1/2017). Foto: Metrotvnews.com/Pythag

Perjelas Legalitas Go-Jek
 
Audiensi antara pengemudi ojek pangkalan dengan Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo dan Kepala Kepolisian Resor Kota Solo lebih Komisaris Besar Ahmad Luthfi menekankan pada apa solusi yang ditawarkan pemerintah dengan serbuan ojek daring.
 

Baca: Aturan Gamang, Go-Jek di Solo Melenggang


Ahmad Luthfi merekomendasikan adanya peraturan yang menjadi dasar polisi menindak pengemudi ojek online. “Atau cara lain adalah mendudukkan keduanya (ojek online dan ojek pangkalan) untuk merumuskan solusi,” tutur dia.
 
Hadi Rudyatmo menyatakan akan mengumpulkan beberapa pihak, yakni perwakilan pengemudi ojek konvensional, pengemudi becak, dan pengemudi ojek online pada 25 Januari.

“Sejak awal, Kota Solo memang menolak Go-Jek. Lain ceritanya jika digunakan sebagai pengangkut makanan, bukan penumpang,” kata dia.
 
Kehadiran ojek bersistem daring ditentang di Kota Solo. Oktober 2016 lalu, ratusan sopir Go-Jek menggeruduk sopir ojek pangkalan di Stasiun Purwosari lantaran salah satu rekannya dikeroyok orang tak dikenal. 

Akhir Desember 2016, giliran ratusan sopir becak dan ojek pangkalan menggeruduk Balai Kota menolak kehadiran Go-Jek.


(UWA)