Saksi Bisu Gugurnya Pahlawan Revolusi yang Nyaris Terlupakan Sejarah

Patricia Vicka    •    Minggu, 01 Oct 2017 18:02 WIB
hari kesaktian pancasila
Saksi Bisu Gugurnya Pahlawan Revolusi yang Nyaris Terlupakan Sejarah
Monumen Pahlawan Pancasila di Kompleks Batalion 403/Wirasada Pratista, Kentungan, Yogyakarta -- MTVN/Patricia Vicka

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Dua patung berdiri kokoh mengapit sebuah bangunan yang menyerupai joglo atau rumah tradisional Jawa Tengah. Di dalam bangunan, terdapat sebuah lubang yang menjadi saksi bisu kekejaman PKI pada 1965.

Bangunan tersebut dikenal dengan nama Monumen Pahlawan Pancasila. Dua pahlawan revolusi gugur di tempat tersebut, yaitu Brigadir Jenderal (Anm) Katamso dan Kolonel Infantri (Anm) R. Sugiyono.

Tak banyak yang tahu, keduanya adalah korban PKI. Sama seperti tujuh jenderal yang dibantai di Jakarta saat Gerakan 30 September atau lebih dikenal G30S/PKI.

Kasie Kepahlawanan, Keperintisan Kejuangan, dan Kesetiakawanan Sosial Dinas Sosial DIY Junaedi menjelaskan, dua pahlawan revolusi asal Yogyakarta tersebut diculik PKI pada 1 Oktober 1965 malam. Brigjen Katamso yang saat itu menjabat sebagai Komandan Korem 072/Pamungkas menjadi yang pertama diculik.

Katamso dijemput paksa oleh anggota PKI yang menyamar sebagai anggota Batalion 403, yang dulu bernama Batalion L. "Pak Katamso dijemput di rumah dinasnya di Jalan Jendral Sudirman. Beliau diangkut hanya dengan mengenakan baju tidur," kata Junaedi usai upacara Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pahlawan Pancasila, Yogyakarta, Minggu 1 Oktober 2017.

(Baca: Dua Pahlawan Revolusi dari Yogyakarta Seolah Dilupakan)

Junaedi menuturkan, Katamso kemudian dibawa ke belakang markas Batalion L. Saat itu, belakang markas Batalion L berupa rawa dan banyak ditumbuhi pohon besar.

Setelah disiksa oleh PKI, Katamso yang dalam keadaan tak sadarkan diri diseret dan dimasukkan ke dalam lubang yang sengaja digali untuk menguburkannya. Batu-batu besar dilemparkan ke dalam lubang untuk mengakhiri hidup Katamso.

"Selanjutnya, PKI menjemput Sugiyono di rumahnya. Ia dibawa ke tempat yang sama," kata Junaedi.

Sama seperti Katamso, usai menjalani penyiksaan, tubuh Sugiyono dilemparkan ke dalam lubang. "Mereka ditumpuk dalam satu lubang," jelasnya.

Kini, jenazah Katamso dan Junaedi sudah dipindahkan ke Taman makam Pahlawan di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta. Lubang tersebut pelan-pelan terlupakan.


Pengunjung berpose di depan lubang di dalam Monumen Pahlawan Pancasila -- MTVN/Patricia Vicka

Berpuluh-puluh tahun kemudian, lubang itu dihadirkan kembali dan diabadikan dalam Monumen Pahlawan Pancasila pada 1991. Di museum mini yang terletak di Kompleks Batalion 403/Wirasada Pratista Kentungan ini, kita juga bisa melihat koleksi benda asli maupun replika serta foto-foto yang terkait dengan pemberontakan PKI.

Monumen dibuka untuk umum setipa Senin-Sabtu. Jam operational pukul 08.00-16.00 WIB pada Senin-Jumat. Sedangkan, Sabtu buka pada pukul 08.00-13.00 WIB.

Sayangnya monumen ini sepi pengunjung, sama halnya sedikit masyarakat yang tahu ada dua pahlawan asal Yogyakarta ikut gugur saat terjadi pemberontakan PKI. Seorang pengunjung mengaku, baru mengetahui KAtamso dan Sugiyono adalah korban PKI.

"Di pelajaran sejarah, keduanya dibunuh karena perang saudara. Ternyata karena PKI," tutur Paramita, siswi SMA Negeri 1 Nganglik, Sleman.

Keluarga kedua pahlawan berharap, pemerintah memberi perhatian. "Kami berharap agar guru-guru dan pemerintah membantu mempromosikan dan mengajak siswa siswi ke museum ini. Agar mereka tidak melupakan sejarah masa lalu," kata Ganis, putra keenam Kolonel Soegiyono.


(NIN)