Polri Dalami Penyokong Dana Saracen

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 25 Aug 2017 18:14 WIB
ujaran kebencian
Polri Dalami Penyokong Dana Saracen
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto. (Media Indonesia/Adam Dwi)

Metrotvnews.com, Sleman: Polri masih mendalami sejumlah hal di balik penyebaran berita provokasi berbau SARA yang dilakukan kelompok Saracen. Salah satu yang didalami yakni siapa saja penyokong dana Saracen. 

"Ini masih dilakukan penyelidikan dan penyidikan. Belum ditentukan sampai mana. Itu substansi masalahnya," kata Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto ditemui di salah satu hotel di Jalan Gejayan Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 25 Agustus 2017.

Baca: Harga Ujaran Kebencian Saracen Puluhan Juta Rupiah

Saracen diperkirakan tak bekerja tanpa ada yang mendanai. Sejumlah kabar bohong berbau SARA itu di antaranya menjurus ke unsur politik. Meski begitu, polisi enggan berspekulasi 

"Belum bisa menyatakan soal itu. Kita bicara fakta hukum. Kita Tak boleh menuduh siapapun sebelum ada bukti," ujarnya. 

Setyo sempat ditanya apa keseharian pelaku pengurus Saracen. Akan tetapi, Setyo enggan menjelaskan aktivitas harian tiga orang yang ditangkap. 

"Kita, polisi hanya melakukan tindakan hukum sesuai kasus, tak melebar ke hal yang lainnya," ujarnya. 
 
Tiga orang diduga pengurus Saracen ditangkap polisi. Tiga orang itu yakni MFT, 43, sebagai pemegang media dan informaai situs Saracennews.com. Lalu, SRN, 32, sebagai koordinator grup wilayah, dan JAS, 32, sebagai ketua. 

Baca: 93 Gigabyte Data dari Saracen Disingkap

Kepala Subdirektorat 1 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Komisaris Besar Irwan Anwar di Mabes Polri, mengatakan, pengelola Saracen menyebar ujaran kebencian demi motif ekonomi. "Mereka menyiapkan proposal. Satu proposal bernilai puluhan juta rupiah," katanya.

Irwan menerangkan, pelaku memiliki sekira 2.000 akun yang digunakan menyebarkan meme untuk menjelek-jelekan Islam. Kemudian, ada 2.000 akun lain untuk menyebar dan membuat meme menjelek-jelekan agama lain. 

"Banyak produk yang sudah dibuat melalui ribuan akun yang mereka miliki," beber dia. 




(SAN)