Menteri Susi 'jadi' Wonder Woman di Solo

Pythag Kurniati    •    Jumat, 18 Aug 2017 15:12 WIB
hut ri
Menteri Susi 'jadi' Wonder Woman di Solo
Warga mengamati mural yang menggambarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti sebagai tokoh Wonder Woman. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: 'Indonesia Never Again the Life-Blood of Any Nation' Kalimat yang menggelorakan nasionalisme itu sempat mewarnai jalanan di Jakarta pada 1945. Semboyan-semboyan serupa itu betebaran mengiringi hari-hari revolusi usai Soekarno-Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Semboyan tersebut kini kembali digoreskan di dinding bangunan milik salah satu seniman tari. Tepatnya, di kawasan perempatan Nonongan, Kecamatan Serengan, Kota Solo, Jawa Tengah.

Tak hanya semboyan, Presiden pertama Soekarno yang tengah menggerakkan massa pun terlukis dengan indah. Di sampingnya, Mohammad Hatta tengah tersenyum lebar. Kedua Proklamator itu berada di bawah kibaran Sangsaka Merah Putih.

Di bagian atas, tampak lukisan yang masih setengah jadi. Rencananya poster pelukis kenamaan Affandi akan kembali dihadirkan dalam sebuah mural. Ditambah kolaborasi kata-kata penyair besar Chairil Anwar, ‘Bung, Ayo, Bung’.


Mural bertema nasionalisme.

Bergeser ke timur, tampak hamparan lautan Indonesia. Tergambar jelas pula wajah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Menteri nyentrik itu digambarkan layaknya tokoh kartun Wonder Woman. Di sampingnya, terlihat sosok bajak laut menodongkan senjata.

“Kami dan anak-anak muda Kota Solo yang menggarapnya, menyebut sebagai seni rupa jalanan atau street art,” ungkap seniman ternama yang juga merupakan pemilik ide, Sardono W. Kusumo saat ditemui wartawan di lokasi, Jumat, 18 Agustus 2017.

Sardono menjelaskan, proses pembahasan konsep hingga menjadi sebuah karya seni rupa jalanan yang dinikmati memakan waktu cukup lama. Ia mengaku berdiskusi dengan sejumlah anak-anak muda pelaku seni di Kota Solo.

“Kami berdiskusi, mulai dari kenapa mural, apa yang akan diangkat,” imbuh Sardono. Ide-ide segar anak-anak muda pun dipadukan hingga menghasilkan street art kontemporer.

Mural Susi Pudjiastuti misalnya, menggambarkan isu kemaritiman. “Dulu tahun 1600-an, kapal-kapal VOC mengangkut hasil bumi dari Indonesia. Dewasa ini, kita hampir menghadapi situasi yang sama. Masih ada kapal yang mengambil hasil laut kita,” tutur dia.

Salah seorang anak muda yang terlibat dalam pembuatan street art, Sonny Hendrawan mengungkapkan pengerjaan mural pada dinding sepanjang kurang lebih 60 meter itu diprediksi memakan waktu 10 hari. “Ada enam orang yang melukis, kami mulai kerjakan sekitar lima hari lalu” kata dia.

Mereka mengerjakan lukisan pada pukul 19.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB. Setidaknya dibutuhkan sekitar 10 kaleng cat untuk merampungkan pembuatan seluruh mural.

“Untuk tempat, kami memang sudah mendapat izin dari Pak Sardono sebagai pemilik lokasi. Harapan kami pemerintah akan memberikan izin lebih banyak tempat yang bisa dijadikan media street art,” papar dia.

Sonny menjelaskan, lukisan-lukisan yang tertoreh sekaligus menunjukkan bahwa seni rupa jalanan tidak hanya dapat dimaknai destruktif. “Kami justru konstruktif. Mengajak anak-anak muda, khususnya di Kota Solo memaknai nasionalisme melalui hal yang menarik,” tutup dia.


(SAN)