Dua Siswa Dikeluarkan dari Sekolah

Masalah Dua Siswa di Semarang Jadi Urusan Sekolah

Husen Miftahudin    •    Rabu, 07 Mar 2018 14:38 WIB
pendidikan
Masalah Dua Siswa di Semarang Jadi Urusan Sekolah
Ilustrasi pendidikan, Medcom.id - Rakhmat Riyandi

Jakarta: Dua siswa SMAN 1 Semarang, Jawa Tengah, dikeluarkan dari sekolah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menekankan masalah itu sebaiknya dituntaskan di tingkat sekolah dan Dinas Pendidikan setempat.

Dua siswa, AF dan AN, dikeluarkan dari sekolah pada awal Februari 2018. Keduanya diduga melakukan tindak kekerasan pada junior dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS pada November 2017.

Baca: Orangtua Perjuangkan Anindya Tetap Ujian di SMAN 1 Semarang

"Persoalan itu sebaiknya diklarifikasi ke kepala sekolah dan kepala Disdik yang bersangkutan," kata Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad saat dihubungi Medcom.id di Jakarta, Selasa, 6 Maret 2018.

Sementara Tim Advokasi Peduli Anak menilai tindakan Kepala SMAN 1 Semarang Endang Suyatmi melanggar Undang Undang Perlindungan Anak. Kepsek melanggar hak anak untuk mendapatkan pendidikan.

"Menurut Peraturan Mendikbud Nomor 18 Tahun 2018 tentang pengenalan sekolah bagi siswa baru, prosedur hukuman seharusnya mulai dari lisan, tulisan, dan tindakan edukatif. Sekolah tak perlu mengeluarkan siswa," kata Endang.

Endang menduga terjadi intimidasi dalam kejadian tersebut. Sebab pihak sekolah memindahkan kedua siswa tanpa persetujuan orangtua.

Listiyani menuntut kepala sekolah mencabut keputusan itu. Apalagi, kedua siswa akan melaksanakan ujian nasional.

Namun Kepala SMAN 1 Semarang Endang Suyatmi menegaskan tak bisa membatalkan keputusannya. Sebab, keputusan sesuai dengan tata tertib.

"Pelanggarannya AF dan AN kami sudah putuskan. Poin memang langsung kami jatuhkan setelah kami mendapatkan bukti video," ungkapnya. 

Menurut Endang, pelanggaran yang dilakukan AF dan AN melebihi batas normal. Mereka menyakiti peserta didi lain secara fisik dan psikis, melanggar etika, merusak fasilitas sekolah, dan mengintimidasi.

Kepala Disdikbud Jawa Tengah Gatot Bambang Hastowo menyatakan keputusan sekolah mengeluarkan dua siswa tersebut sesuai dengan prosedur. "Tata tertib itu ada tahapannya. Sekolah melaporkan ada pemukulan, menggunakan fasilitas sekolah," katanya.

Gatot mengaku sudah mengivestigasi kejadian tersebut. Kepala SMAN 1 Semarang, lanjutnya, bertanggung jawab atas laporan itu.

Masalah muncul. Sebab kedua siswa duduk di bangku kelas XII. 

"Karena mendekati ujian nasional, maka saya mencarikan solusi, yaitu saya tawarkan tetap ikut ujian, tetapi tidak di SMAN 1 Semarang," pungkasnya.



(RRN)