FNI Ungkap Kejanggalan ABK Tewas di Kapal Berbendera Taiwan

Kuntoro Tayubi    •    Jumat, 27 May 2016 15:55 WIB
kelautan
FNI Ungkap Kejanggalan ABK Tewas di Kapal Berbendera Taiwan
Dua anak ABK menunjukkan foto ayahnya yang meninggal saat berlayar di Tegal, Jateng, MTVN - Kuntoro

Metrotvnews.com, Tegal: Kejanggalan ditemukan dari kematian Supriyanto, awak buah kapal (ABK) asal Tegal, Jawa Tengah. Federasi Nelayan Indonesia (FNI) mendapat rekaman yang memperkuat kejanggalan tersebut.

Pada 25 Agustus 2015, Supriyanto meninggal di kapal berbendera Taiwan. Saat itu, kapal berlayar di Perairan Republik Fiji.

Kemudian, keluarga menerima jenazah Supriyanto. Keluarga lalu mengebumikannya di kampungnya di Desa Dukuh Wringin, Kecamatan Salwi, Tegal.

Ketua FNI John Albert mengaku mendapat rekaman dari seorang ABK yang menjadi saksi kematian Supriyanto. Rekaman berupa video itu menunjukkan Supriyanto dianiaya dan disiksa hingga meninggal.

"Supriyanto dipukuli empat orang hingga meninggal di atas kapal," kata John melalui sambungan telepon kepada Metrotvnews.com, Jumat (27/5/2016).

Menurut John, dua ABK asal Indonesia ikut memukuli Supriyanto di bagian kepala hingga beberapa kali. Bahkan, kata John, peristiwa itu terjadi selama dua bulan terhadap Supriyanto.

Meski sedang sakit, ungkap John, Supriyanto dipaksa untuk bekerja. Hari terakhir di atas kapal, Supriyanto dipukulo dengan canggon atau alat untuk memindahkan ikan.

"Setelah dipukuli, Supriyanto meninggal dunia. Canggon ini alat yang terbuat dari besi dan ujungnya berupa besi lengkung berujung lancip," ungkapnya.

Pada 25 September 2015, keluarga memakamkan jenazah di kampung halamannya.

John mengatakan melaporkan kasus tersebut ke Kementerian Luar Negeri, Kepala BNP2TKI, dan Kementerian Ketenagakerjaan. Tapi empat bulan berlalu setelah laporan, keluarga dan FNI belum mendapat respon.

Supriyanto pertama kali menjadi ABK sejak 2013. Ia bergabung dengan kapal berbendera Taiwan. Ia mendapat kontrak kerja selama satu tahun. 

Namun Supriyanto hanya bekerja selama 10 bulan. Ia kemudian kembali ke Indonesia.

Di keberangkatan kedua, Supriyanto kembali bergabung dengan sebuah kapal ikan berbendera Taiwan. Ia menandatangani kontrak selama setahun. Namun baru enam bulan bekerja, Supriyanto meninggal. Keluarga mendapat laporan Supriyanto meninggal karena sakit.

Supriyanto meninggalkan tiga anaknya yaitu Muhammad Demas Akim, 13; Muhammad Subur Makmum; dan Lindia Wati, 4. Ketiganya dirawat kerabat terdekat. Sementara istrinya, Rukhatun Jannah, 30, sudah meninggalkan keluarganya sebelum Supriyanto berlayar. 


(RRN)