Kisah Pria Solo Peraih Penghargaan Lintas Agama Internasional

Pythag Kurniati    •    Rabu, 28 Mar 2018 14:55 WIB
kerukunan beragama
Kisah Pria Solo Peraih Penghargaan Lintas Agama Internasional
Sumartono Hadinoto saat ditemui di Kota Solo, Jawa Tengah. Foto: Medcom.id/Pythag Kuarniati

Solo: Hidup yang berarti adalah hidup yang bermanfaat bagi orang lain. Demikian yang meluncur dari mulut Sumartono Hadinoto, 61, saat ditanya mengenai prinsip hidupnya.

Bagi Sumartono, masih banyak orang di dunia yang membutuhkan bantuan. Perjalanan hidup, mengajarkan Sumartono bahwa bantuan tidak selalu berupa uang.

Menurutnya, rasa persaudaraan dan bahagia bisa berbagi dengan sesama merupakan kunci terwujudnya perdamaian. "Sedangkan persaudaraan itu datangnya dati hati, bukan hanya dari hubungan darah," ungkap Sumartono, Rabu, 28 Maret 2018.

Tak heran, prinsip hidup itulah yang mengantarkan pengusaha bahan bangunan tersebut meraih penghargaan Global Business and Interfaith Peace Symposium and Award pada Maret 2018. Penghargaan ini diberikan Religious Freedom and Business Foundation yang berada di bawah naungan Aliansi Peradaban Persatuan Bangsa-Bangsa (UNAOC).

Pada awal Maret 2018, Sumartono menerima penghargaan kategori advokasi dan keterlibatan dalam kebijakan publik ini di Seoul, Korea Selatan. Penghargaan diberikan langsung oleh Mantan Sekjen PBB Ban Ki Moon.

"Ada 16 finalis dari berbagai negara seperti China, Australia, Prancis, Amerika. Hanya 12 yang menerima penghargaan," papar Sumartono.


Sumartono saat menerima penghargaan di Seoul, Korea Selatan. Foto: Istimewa

Selain dirinya, ada dua penerima penghargaan yang berasal dari Indonesia. Mereka adalah Presiden Direktur Mizan Grup Haidar Bagir dan pendiri Bina Swasdaya Bambang Ismawan. Mereka bertiga menerima penghargaan dengan kategori berbeda.

Pernah Menjadi Sopir Ambulans

Sumartono yang bernama lain Khoe Liong Hauw menjalani hidup yang sulit setelah ditinggalkan oleh ayahnya semasa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kemudian saat SMA, ia pun bergabung dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari).

Ia mengemukakan, organisasi tersebut juga beranggotakan orang-orang medis, birokrat, maupun pengusaha. "Akhirnya saya banyak jaringan dan di situ saya rasakan tidak ada perbedaan. Semuanya jadi satu tanpa memandang suku, ras, agama," terang dia.

Ketika itu, lanjutnya, ia masih bersekolah. Belum bisa membantu dengan harta tidak lantas menghentikan semangat Sumartono untuk berbagi. Ia pun sempat menjadi sopir ambulans Orari.

Saat menjadi sopir ambulans, dirinya pernah membawa pasien kecelakaan. Kepadanya, petugas rumah sakit pun menanyakan siapa yang akan menanggung biaya pasien.

"Saat itu saya bingung. Saya masih belum pegang uang dan masih SMA. Akhirnya senior saya di Orari yang mengatakan akan menanggung. Saya ingin seperti dirinya," tutur dia.

Hingga kini, Sumartono telah bergabung dengan lebih dari 10 organisasi. Seperti Lions Club, Palang Merah Indonesia (PMI), Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) dan lain sebagainya. Kebanyakan diantaranya merupakan organisasi sosial.

Sumartono mengajak masyarakat Indonesia saling memiliki rasa persaudaraan. Ia percaya, konflik yang terjadi akan terkalahkan jika lebih banyak orang yang melakukan aksi untuk mewujudkan perdamaian.

 


(SUR)