Longsor di Kali Gendol Akibat Salah Sistem Penambangaan

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 03 Apr 2018 17:22 WIB
bencana longsor
Longsor di Kali Gendol Akibat Salah Sistem Penambangaan
Proses evakuasi korban longsor di lokasi penambangan di kawasan Sungai Gendol, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. (Medcom.id-Ahmad Mustaqim)

Yogyakarta: Longsor di lokasi penambangan pasir di Kali Gendol, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akibat penambang abai sistem penambangan. 

Geolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Wahyu Wilopo mengungkap, kecelakaan penambangan yang memakan korban jiwa di kawasan kaki Gunung Merapi akibat longsoran pasir yang ditambang dari bawah. 

"Penambang mestinya tahu. Kadang-kadang para penambang ini sudah paham (risiko), tapi motong tebing dari bawah. Logikanya dari atas dulu," ujar Wahyu saat dihubungi Selasa, 3 April 2018. 

Selain kesalahan sistem penambangan, ia mengatakan, ketidaksiapan mengantisipasi dan memonitor kondisi lingkungan juga jadi salah satu faktor. 

Sebelum menambang, lanjut Wahyu, harus lebih dulu ada pengecekan kondisi atas tebing untuk keamanan penambang di bagian bawah. 

"Sebelum penambangan dimulai, dicek dulu apakah di atas ada bagian retakan atau tidak sehingga jika terjadi ancaman dapat diantisipasi," ujarnya. 

Baca: Dua Orang Tewas Tertimbun Longsor di Lokasi Tambang

Ia menilai, pemerintah harus terlibat dalam memperhatikan dan mengingatkan penambang. Meskipun, keselamatan penambangan jadi tanggung jawab penambang sendiri. 

"Misalnya (penambangan) batu bara dan emas, ada divisi lingkungan. Tetapi pemerintah juga membuat aturan atau regulasi sehingga para penambang di sana bukan penambang besar dan bisa mengikuti regulasi itu," tuturnya. 

Ia mengungkapkan, penambang saat ini menggerus dinding pinggiran sungai. Mestinya, kata dia, penambangan dilakukan dengan memotong dari atas ke bawah. 

"Hampir semuanya kayak gitu kalau di (lereng Gunung Merapi). Tidak hanya Jogja, tapi juga Magelang, Klaten, dan Boyolali," imbuhnya. 

Dia menambahkan, penambang kebanyakan mencari mudahnya ketimbang mencari tahu regulasi yang sudah ditetapkan. Padahal, sosialisasi sudah dilakukan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral. 


(LDS)