Dalem Joyokusuman Disulap jadi Pusat Pengembangan Budaya

Pythag Kurniati    •    Kamis, 17 Nov 2016 14:44 WIB
cagar budaya
Dalem Joyokusuman Disulap jadi Pusat Pengembangan Budaya
Bagian dalam kompleks Dalem Joyokusuman di Gajahan, Pasar Kliwon, Solo, Jateng. (Foto-foto: Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: Pemerintah Kota Solo akan menyulap Dalem Joyokusman di Kelurahan Gajahan, Kecamatan Pasar Kliwon, menjadi pusat pengembangan budaya atau disebut Joyokusuman Cultural Centre (JCC). Selain merevitalisasi bangunan utama, pemkot juga akan membangun gedung teater, museum, serta patung Joyokusumo.

Kepala Bidang Pelestarian Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) Solo Mufti Raharjo mengungkapkan prioritas awal adalah merevitalisasi bangunan utama. “Mulai dikerjakan tahun depan. Pengerjaannya secara bertahap,” ujar Mufti, Kamis (17/11/2016).

Baca: Cagar Budaya Ini Pernah Dikuasai Koruptor

Bangunan utama yang berbentuk pendopo, lanjutnya, bakal dipercantik tanpa mengubah bentuk aslinya. Sedangkan pada tanah seluas 3 ribu meter persegi di bagian depan sebelah timur didirikan sebuah gedung teater yang mengadopsi Museum Louvre Paris, Prancis.


Pendapa Dalem Joyokusuman.

Mufti menerangkan, patung Joyokusumo juga akan menghiasi JCC. Joyokusumo, terang dia, adalah putra Paku Buwono X yang merupakan salah satu pemilik bangunan tersebut.

“Ini sebagai ungkapan terima kasih pada keluarga Mr. KGPH. Joyokusumo yang telah mendukung rencana pembangunan JCC. Sekaligus untuk mengabadikan sosok dan nama Joyokusumo,” terang dia.

Tak hanya itu, pemkot akan menata akses masuk menuju Dalem Joyokusuman dengan membangun pedestrian dan jalur hijau. 

Rumah keluarga raja

Dalem Joyokusuman merupakan bangunan kuno yang diperkirakan berdiri sekitar 167 tahun yang lalu. Bangunan ini dahulu digunakan sebagai tempat tinggal para kerabat raja. 

Nama Joyokusuman diambil dari salah satu pemilik bangunan ini yakni Mr. KGPH. Joyokusumo, putra dari Pakubuwono X, Raja Keraton Kasunanan Surakarta.

Joyokusumo menempati Dalem Joyokusuman sejak tahun 1953 setelah ditempati BKPH Suryo Broto (putra PB IX) pada tahun 1939. Kepemilikan beralih ke RNg Malkan Sangidoe pada tahun 1955. Selanjutnya pada 2004/2005, Dalem Joyokusuman dibeli oleh Widjanarko Puspoyo, mantan Kepala Bulog yang kemudian terjerat kasus korupsi.


Desain patung Joyokusumo.

Widjanarko Puspoyo mendapat vonis sepuluh tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena dinyatakan bersalah melakukan korupsi dan menerima ‘hadiah’ pada tahun 2008. Kejaksaan Agung pun menyita bangunan kuno tersebut. Akhirnya, Kejagung menyerahkan wewenang pengelolaan pada Pemkot Solo pada Februari 2016.

Dalem Joyokusuman telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui keputusan Wali Kota Solo Nomor: 646/32-C/1/2013. Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Baca: Pemprov Jateng Kucurkan Rp7,5 Miliar untuk Bangunan Bekas Koruptor

Bangunan ini mewakili salah satu bangunan kanjengan (pangeran) dengan ciri khas gledekan (jalan masuk), kori dan ndalem. Tata ruang menarik yang terdiri dari pendapa, pringgitan, senthong dan seketheng ditambah keberadaan arca, yoni dan batu berelief menambah keeksotisan Dalem Joyokusuman. 

Nantinya revitalisasi Dalem Joyokusuman yang diperkirakan membutuhkan anggaran total hingga Rp30 miliar tersebut akan mewakili gambaran Solo masa depan dan Solo masa lalu.


(SAN)