Lumpuh Tak Menghentikan Untoro untuk Berbagi Ilmu

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 01 Feb 2019 19:20 WIB
Sosok Inspiratif
Lumpuh Tak Menghentikan Untoro untuk Berbagi Ilmu
Untoro, warga Dusun Klampok, Desa Giripurwo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 1 Februari 2019. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim.

Gunungkidul: Untoro, warga Dusun Klampok, Desa Giripurwo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta hanya bisa terbaring dalam menjalani kesehariannya. Namun, lelaki berusia 60 tahun ini menjadi sosok guru bagi anak-anak di kampungnya tanpa meminta bayaran. 

Saat berada di pintu sebelum masuk. anak-anak itu melantunkan salam. "Assalamualaikum, Mbah Un (sapaan Untoro)," ujar anak-anak tersebut. Baring di atas kasur tipis, Untoro menyalami sejumlah anak yang masuk ke dalam rumahnya, Jumat, 1 Februari 2019.

Untoro melemparkan senyum menyambut kedatangan anak-anak itu. Setelah berbincang beberapa saat, Untoro mulai mengajarkan pelajaran kepada mereka.  

Untoro berbagi ilmu sudah sejak 1980 kepada anak-anak di sekitar rumahnya. Kondisi fisik yang lemah, bahkan tak bisa untuk duduk tak menghalangi kemauannya untuk memberikan manfaat kepada sesama. 

Pelajaran matematika, bahasa Jawa, hingga agama, Untoro berikan sesuai kapasitasnya. Maklum, Untoro hanya sekolah hingga kelas dua tingkat SMP pada 1976. Sejak saat itu, Untoro jatuh di ladang dan tak bisa langkah beraktivitas normal sampai saat ini. 

"Saya terima kondisi seperti ini. Tiap hari masih bisa belajar bersama anak-anak pas sore hari. Mereka tetap senang meski berangkat dalam kondisi gerimis," ujar Untoro. 

Untoro mengatakan, dirinya semula tak berkeinginan menjadi guru dalam belajar di rumah. Namun, ia tak bisa menolak saat ada anak-anak datang ke rumahnya dengan membawa sejumlah buku pelajaran.

Ia mengatakan selalu menyisipkan sebuah pesan sekaligus pembelajaran kepada anak-anak dalam menjalani hidup. Dengan bahasa sederhana, Untoro menyampaikannya lewat medium wayang sesaat setelah rampung belajar. Baginya, saling belajar dan berbagi ilmu menjadi kewajiban insane manusia seumur hidup. 

Untoro sudah tak ingat lagi berapa jumlah anak yang belajar dengannya. Sejumlah generasi telah melintas hari demi hari tanpa terasa. Waktu Untoro yang banyak tercurahkan untuk pembelajaran dengan anak-anak tak pernah menjadi beban. 

Mengajar Tanpa Pamrih

Adik kandung Untoro, Sundari mengatakan kakaknya tak mengharapkan belas kasihan dari siswa ataupun orang tua siswa dalam membagi ilmu. Ia tak membebani biaya sepeser pun bagi anak-anak yang ingin belajar. 

Banyak generasi yang belajar dengan Untoro. Sundari mengatakan ada sejumlah anak yang dulu belajar dengan kakaknya, kini telah menjadi guru. “Kadang ada yang datang ke sini juga menjenguk,” ucapnya. 

Mereka yang menjenguk terkadang membawa oleh-oleh, seperti makanan ringan atau teh dan gula. Untoro, lanjut Sundari, tak menanyakan barang bawaan itu ketika orang yang menjenguk tak langsung diserahkan kepadanya. 

“Kami ada enam saudara, termasuk kang Untoro. Saya sama saudara-saudara di rumah yang membantu semua keperluannya,” kata dia. 

Kepala Dusun Klampok, Margono menambahkan, dirinya sangat terkesan dengan perjuangan Untoro. Meski berjuamng untuk diri sendiri, Untoro masih mau memikirkan orang lain. Bahkan, kata dia, cara penyampaian dalam membagi ilmu bisa mudah diserap olah anak-anak yang mayoritas masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). 

Margono bahkan menyebut dua anaknya ada yang juga pernah belajar dengan Untoro. “Banyak warga di sini yang memercayakan anak-anaknya buat belajar pas sore, ketimbang beraktivitas tak ada manfaatnya,” ungkap Margono. 


(DEN)