40 Tahun Kesulitan Air, Petani Brebes Alih Profesi

Kuntoro Tayubi    •    Kamis, 14 Sep 2017 13:03 WIB
kemarau dan kekeringan
40 Tahun Kesulitan Air, Petani Brebes Alih Profesi
Kondisi Bendungan Cisadap di Brebes, Jawa Tengah, kering saat musim kemarau. Foto: MTVN/Kuntoro Tayubi

Metrotnews.com, Brebes: Lebih dari 40 tahun, warga Dukuh Wangon, Desa Kubangsari, Ketanggungan, Brebes, Jawa Tengah, hidup tanpa air bersih. Nestapa bertambah, pasokan air yang mereka dapat dari sungai setempat mengering.

Waduk Cisadap di Ketanggungan mengering pada musim kemarau ini. Padahal, air dari saluran irigasi bendungan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dari mencuci, mandi, dan minum warga.

Kepala Desa Kubangsari Tarlan mengatakan, Dukuh wangon berpenduduk kurang lebih 2.255 jiwa. Mata pencaharian utama mereka sebagai petani. Kebutuhan air mengandalkan sungai irigasi setempat.

“Padahal sangat tidak layak untuk konsumi. Air sungai yang mengalir dari hulu Sungai Pemali tersebut sangat keruh dan kotor. Karena hal itu sudah ia lakukan sejak berpuluh-puluh tahun lamanya, warga tidak risih dan sakit,” ujarnya, Kamis, 14 September 2017.


Kondisi Bendungan Cisadap di Brebes, Jawa Tengah, kering saat musim kemarau. Foto: MTVN/Kuntoro Tayubi

Sudah beberapa kali warga mencoba membuat sumur pompa. Namun air tetap tidak kunjung keluar walau sumur digali sampai kedalaman 120 meter.

Saat musim penghujan, warga masih dapat mengambil air di sungai irigasi. Air ini yang kemudian ditampung di kolam endapan.

Air yang telah diendapkan baru difungsikan untuk kebutuhan sehari-hari dari mencuci, mandi,
hingga memasak. Namun, di saat musim kemarau seperti ini warga harus berjalan sejauh 5 km ke desa tetangga untuk mendapatkan air bersih.


Petani membuat bata di Brebes, Jawa Tengah. Foto: MTVN/Kuntoro Tayubi

Alih profesi

Tak menentunya pasokan air, membuat petani tak bisa mengolah areal pertanian. Sebagian dari mereka memilih alih profesi menjadi pembuat bata merah. Rata-rata petani yang beralih profesi ini berasal dari Desa Buara, Ketangggungan.

Petani Buara memanfaatkan alur Sungai Cisadap yang mengering. Tanah pinggiran sungai yang mengering diproses menjadi bata bata. Setelah dijemur selama beberapa hari, bata-bata mentah ini kemudian dibakar. Proses pembuatan hinggga siap dipasarkan memakan waktu lebih kurang setengah bulan.

Sardi bersama istrinya, Saminah, mengaku bisa membuat 1.000 bata mentah tiap harinya. Menurut Sardi, bata merah ini kemudian dibeli perorangan atau juragan yang sebelumnya sudah memesan.


Saminah dan keluarga bisa membuat seribu bata tiap hari. Foto: MTVN/Kuntoro Tayubi


(SUR)