Ojek Daring di Solo Didesak Cuma Antar Makanan

Pythag Kurniati    •    Rabu, 25 Jan 2017 16:11 WIB
gojek
Ojek Daring di Solo Didesak Cuma Antar Makanan
Audiensi Go-Jek dengan ojek pangkalan dan pengemudi becak di Balai Kota Solo, Rabu (25/01/2017). (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah menggelar audiensi dengan pengemudi becak dan ojek pangkalan. Rembug digelar untuk mencari solusi atas kehadiran salah satu perusahaan ojek dengan sistem daring di kota itu.

Ojek pangkalan serta pengemudi becak meminta kejelasan status ojek daring di Kota Solo. Mereka merasa tak kunjung ada titik temu dari audiensi yang beberapa kali digelar.
 
Audiensi pada Rabu, 25 Januari 2017, di Balaikota Solo sempat berjalan alot. Lantarannya, pengemudi becak dan ojek pangkalan berkukuh menolak ojek daring.
 
Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengatakan Pemkot Solo tidak memberikan izin ojek daring beroperasi. Rudy, pemilik karib tersebut, mengatakan izin operasional ojek daring di Solo sejak awal adalah untuk mengantar makanan.
 
"Saya setuju kemajuan, tapi saya memegang aturan UU Nomor 22 Tahun 2009. Jadi silakan modifikasi motor dengan box makanan sehingga tidak digunakan mengangkut penumpang," ungkap Rudy.

Wali Kota juga menyebut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 32 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek.
 
Menanggapi desakan tersebut, Senior Vice President Operation Go-Jek Amo Tse mengungkapkan selama ini pihaknya telah memiliki layanan jasa antar makanan di samping melayani penumpang. Namun, untuk menghapus layanan penumpang, katanya, tidak semudah membalikkan telapak tangan.
 
“Kami hadir di Kota ini justru karena adanya permintaan masyarakat Solo,” ungkap Amo usai mengikuti audiensi.
 
Ia menerangkan meskipun perizinan usaha seperti Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan NPWP diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Sukoharjo namun mayoritas pengemudi Go-Jek berasal dari Kota Solo. “Sekitar 99 persen driver-nya justru dari Solo,” imbuh dia.
 
Mengaku ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tampaknya manajemen Go-Jek masih enggan memutuskan menghapus layanan transportasi penumpang dan hanya beralih ke jasa antar makanan.
 
Kapolresta Solo, Komisaris Besar Ahmad Lutfi mengungkapkan persoalan status Go-Jek di Kota Solo harus segera dirampungkan. “Saya tidak ingin muncul konflik-konflik komunal yang akan mengganggu ketertiban wilayah,” pungkasnya.


(SAN)