Di-Bully di Sekolah, Seorang Siswa Hampir Impoten

Ahmad Mustaqim    •    Rabu, 09 Nov 2016 15:17 WIB
kekerasan anak
Di-<i>Bully</i> di Sekolah, Seorang Siswa Hampir Impoten
Ulu Alan Surengga menunjukkan dokumen hasil pemeriksaan dokter. Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: JAT, 8, siswa MI Al Kautsar, di Sumberdadi, Kacamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, harus menjalani operasi di bagian alat vitalnya. Siswa kelas dua ini harus menjalani operasi akibat mengalami kekerasan yang diduga dilakukan temannya sendiri.

Ayah JAT, Ulu Alan Surengga, mengatakan anaknya mengalami beberapa kekerasan sebelum harus menjalani operasi. Sejumlah kekerasan itu di antaranya terjadi pada Kamis 20 Oktober.

Saat itu, orang tua JAT diminta menjemput pada jam pulang sekolah. Selepas menjemput dan berada di rumah, Alan mendapati anaknya membuang air kecil yang disertai darah. Mengetahui hal itu, Alan langsung membawa anaknya ke rumah sakit.

"Sebelum ke rumah sakit, anak saya lebih dulu saya bawa ke dokter. Lalu membawa ke rumah sakit. Lalu saya bawa ke RS UGM," kata Alan di Kantor Jogja Police Watch, Rabu (9/11/2016).

Dari keterangan JAT, Alan mengatakan anaknya diduga mengalami tindak kekerasan yang dilakukan rekannya berinisial Df. Menurutnya, Df menjadi salah siswa yang perilakunya mendapatan sorotan sekolah.

Ia menyebut tindak kekerasan itu terjadi saat JAT akan memakai sepatu. "Kata dokternya, lukanya ada di bagian dalam (alat vital)," ujarnya.

Keluarga JAT langsung mendatangi sekolah selang sehari usai kejadian. Dari kedatangan ke sekolah itu, ada sejumlah anak yang memang terkadang melakukan kekerasan. Selain Df, juga ada Nd dan Dn.

Belum selesai masalah itu, JAT kembali mendapat kekerasan dari rekannya pada Senin 31 Oktober. Akibat rentetan kekerasan itu, JAT dibawa ke RS Panti Rapih untuk menjalani operasi alat vitalnya. JAT menjalani operasi menjelang pukul 19.00 WIB.

"Sesudah operasi, dokter mengatakan anak saya ada luka yang menyumbat saluran kencing dan itu teratasi. Kata dokternya, terlambat sedikit saja, anak bapak bisa impoten," katanya.

Ia menambahkan, menjelang operasi, tak satu pun perwakilan sekolah yang datang mendampingi. Saat operasi berlangsung, baru kemudian perwakilan sekolah mendatangi rumah sakit.

"Kami minta pihak sekolah tanggung jawab. Anak saya sudah cacat," ujarnya.

Mustofa, guru MI Al Kautsar, mengatakan tak mengetahui secara rinci peristiwa yang dialami JAT. Menurut dia, anak-anak sekolah memang biasa bermain. "Setahu kami, anak bermain memang saat itu," kata dia.

Ia juga mengungkapkan telah mengupayakan mediasi dalam kasus itu. Meskipun, para orang tua belum bisa langsung dipertemukan. 

"Biaya operasi (JAT) juga sudah ditanggung sekolah. Semula Rp13 jutaan, jadi Rp10 jutaan," kata dia.


(UWA)