Kibaran Merah Putih di Tumpukan Sampah

Pythag Kurniati    •    Kamis, 17 Aug 2017 12:57 WIB
hut ri
Kibaran Merah Putih di Tumpukan Sampah
Upacara di atas tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Solo, Jawa Tengah.

Metrotvnews.com, Solo: Para penggiat lingkungan menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia di atas tumpukan sampah. Upacara digelar Kamis, 17 Agustus 2017 di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo, Solo.

Peserta upacara antara lain dari Gerakan Orang Muda Peduli Sampah (Gropesh), Komunitas Bank Sampah, Tim Kerja Lingkungan Hidup serta masyarakat.

Koordinator aktivis lingkungan, Denok Martiastuti mengemukakan, upacara kali ini menjadi bagian dari refleksi perjalanan kemerdekaan Indonesia selama 72 tahun. "Ternyata dalam hal lingkungan, utamanya sampah, kita belum merdeka," ungkap Denok, Kamis, 17 Agustus 2017.

Denok menyebut, saat ini masyarakat Indonesia justru menjajah ibu pertiwi dengan minimnya pengetahuan mengenai pengelolaan sampah. "Tumpukan sampah ini menjadi buktinya," kata dia.

Menurutnya, perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah harus secepatnya diubah. Hal yang paling mudah dilakukan adalah dengan mengurangi sampah, memilah-milah sampah rumah tangga serta membuat bank sampah di tingkat Rukun Warga (RW).

Denok mengatakan, di Kota Solo sudah terdapat 105 bank sampah. Idealnya, satu RW memiliki satu bank sampah. "Artinya kami menargetkan setidaknya ada 650 bank sampah di 650 RW di Kota Solo," papar Denok.

Masyarakat pun bisa memulai kepedulian dengan memisahkan sampah organik dan anorganik rumah tangga. Sampah organik diolah menjadi kompos. Jadi, sampah yang masuk TPA hanya sampah yang tidak bisa diolah oleh rumah tangga.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Solo, jumlah sampah di Kota Solo terus mengalami kenaikan. Tahun 2011 rata-rata ada 241 ton sampah per hari menumpuk di Kota Solo.

Kemudian tahun 2012 menjadi 242 ton, 2013 naik 253 ton. Sedangkan pada tahun 2016 rata-rata sampah perhari mencapai 265 ton.

Pemkot Solo telah melakukan kerja sama dengan investor untuk mengolah sampah di TPA Putri Cempo menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). PLTSa akan dikelola dengan teknologi plasma gasifikasi yang diklaim berbeda dari pembakaran atau insenerator.

Sampah-sampah di TPA Putri Cempo nantinya diperkirakan mampu menghasilkan 10 Mega Watt listrik dalam waktu satu jam. PLN akan membeli listrik hasil pengolahan senilai 18,77 sen dollar AS atau setara Rp2.496 per Kilo Watt Hour (kWH).

Proses penyiapan infrastruktur membutuhkan waktu setidaknya 2,5 tahun. Sehingga paling tidak, produksi sampah Putri Cempo menjadi tenaga listrik akan dimulai tahun 2019.


(SAN)