PWNU DIY: Sekolah Lima Hari Bias Perkotaan

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 16 Jun 2017 20:53 WIB
pendidikan
PWNU DIY: Sekolah Lima Hari Bias Perkotaan
Ilustrasi: Sejumlah siswa mengerjakan soal ujian akhir Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) di Jalan Debong Kidul, Tegal, Jateng. (Ant/Oky Lukmansyah)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Kebijakan sekolah lima hari atau delapan jam sehari menimbulkan pro kontra. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (PWNU DIY) menganggap kebijakan itu tak sesuai kondisi riil masyarakat secara umum. 

"Banyak kearifan lokal di daerah yang tidak cocok dengan sistem itu," kata Wakil Sekretaris PWNU DIY, Muhajir saat ditemui di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, Jumat petang, 16 Juni 2017.

Kearifan lokal yang Muhajir maksud yakni sekolah di sore hari setelah pulang dari sekolah umum, yaitu Madrasah Diniyah. 

Menurut dia, Madrasah Diniyah sudah berjalan lama di daerah-daerah pedesaan. Bahkan, Muhajir menilai, Madrasah Diniyah bisa berjalan efektif dan memberikan manfaat dalam pengembangan karakter siswanya. 

"Jika tujuannya ingin membentuk pendidikan karakter, itu yang seperti apa? Jika sekolah lima hari ini dilakukan akan berimbas langsung pada sekolah atau Madrasah Diniyah. Harusnya kebijakan Kemendikbud kan melestarikan kebudayaan, bukan hanya pendidikannya," ucapnya. 

Muhajir berujar, dengan alasan tersebut menunjukkan kementerian tidak memiliki sistem yang jelas. Seharusnya, ujar dia, Kemendikbud mengacu pada aspek kebudayaan dan pendidikan dalam mengambil kebijakan. 

Ia menambahkan, kebijakan baru yang hendak diambil Kemendikbud harusnya disertai kajian panjang serta pemetaan sekolah-sekolah yang memungkinkan untuk implementasinya. Baginya, kebijakan baru itu terkesan bias perkotaan. Padahal, lanjutnya, sebagian wilayah Indonesia merupakan pedesaan. 

"Kami juga tak pernah mendapat naskah akademiknya soal kebijakan kementerian. Harapan kami, pemerintah membuat blue print kebijakan pendidikan nasional agar ada sistem yang jelas," kata dia.


(SAN)