Perselisihan Ojek Daring, Pemkot Solo: Tanyakan ke Pusat

Pythag Kurniati    •    Kamis, 13 Oct 2016 16:29 WIB
gojek
Perselisihan Ojek Daring, Pemkot Solo: Tanyakan ke Pusat
Pengemudi Go-Jek menyambangi kawasan Purwosari Solo, Jateng, usai insiden penganiayaan rekannya, Selasa (11/10/2016). (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Solo Yosca Herman Soedrajad mengatakan pergesekan ojek daring (online) dan pangkalan merupakan buntut kegamangan pemerintah pusat menentukan regulasi lalu lintas dan angkutan jalan.

"Pertanyaan regulasi seharusnya juga ditanyakan ke pusat, yang dikhawatirkan sejak dulu adalah adanya masalah sosial dengan ojek pangkalan atau taksi. Dan ternyata memang terjadi," ujar Yosca saat ditemui di Kantor Bank Indonesia Kota Solo, Jawa Tengah, Kamis (13/1/2016).

Baca: Wali Kota Solo Minta Presiden Tinjau Ulang "Restunya" pada Go-Jek

Dia mengungkapkan, Kota Solo sebenarnya telah lama berkomitmen untuk menolak ojek daring. "Sudah jelas adanya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Tidak mengikuti itu, ya tentu saja ilegal," kata dia.

Sedangkan Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengungkapkan bisa saja Dishubkominfo melakukan penggembokan pada ojek daring yang beroperasi. Namun, Rudy meminta Dishubkominfo berkoordinasi dengan pihak kepolisian terlebih dahulu untuk mengambil langkah selanjutnya.

Baca: Korban Ojek Pangkalan Belum Bisa Beri Keterangan

Kapolres Kota Solo Kombes Achmad Lutfi mengungkapkan kewenangan regulasi ada pada Pemerintah Kota Solo. “Apakah regulasi Gojek bisa diberlakukan di wilayah kita, apakah Gojek dari luar wilayah kita bisa masuk ke Solo. Kewenangan itu bukan di kepolisian,” ujarnya.

Persoalan ojek daring dan pangkalan kembali mencuat setelah peristiwa penganiayaan di kawasan Purwosari, Selasa (11/10/2016). Sopir ojek daring, Kristian Wibowo, dianiaya lima orang tak dikenal saat menunggu penumpang.

Baca: Puluhan Sopir Go-Jek Datangi Ojek Pangkalan Stasiun Purwosari

Polisi belum berhasil menemukan tersangka penganiayaan. Namun, enam saksi telah diperiksa. "Akan mengarah kepada tersangka," kata Lutfi.

Guna meredam keributan susulan, Polresta Solo menggelar mediasi antara kedua belah pihak pada Rabu (12/10/2016). Sayangnya, perwakilan sopir ojek pangkalan tidak hadir.


(SAN)