BMKG Pastikan Pendeteksi Tsunami di Jateng Normal

Budi Arista Romadhoni    •    Kamis, 04 Oct 2018 16:16 WIB
tsunami
BMKG Pastikan Pendeteksi Tsunami di Jateng Normal
Ilustrasi alat pendeteksi tsunami di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Sabtu (16/4). FOTO ANTARA/Ampelsa.

Banjarnegara: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan early warning system (EWS) di Jawa Tengah berfungsi normal. Pendeteksi berupa sirine tersebut berada di kawasan Kabupaten Cilacap, perairan selatan Jawa Tengah.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Banjarnegara, Setyoajie Prayoedhie mengatakan, pemasangan alat pendeteksi tsunami merupakan bagian dari mitigasi bencana.

"Terkait potensi tsunami selatan Jateng, BMKG sudah melakukan langkah-langkah mitigasi berupa pemasangan dua unit sirine peringatan dini tsunami di kabupaten cilacap," kata Setyo saat dihubungi Medcom.id, Kamis, 4 Oktober 2018. 

Setyo menjelaskan, untuk peringatan dini tsunami, pihaknya sudah melakukan edukasi kepada instansi penanggulangan bencana maupun relawan. Edukasi dilakukan melalui kegiatan Table Top Exercise (TTX).

Kemudian untuk mengantisipasi gangguan pada jalur komunikasi saat terjadi gempabumi besar, BMKG mengembangkan Prototype Moda Diseminasi Informasi Gempabumi, yaitu Menggunakan Teknologi Frekuensi Radio yang bertempat di Pusdalops BPBD Kabupaten Kebumen.

"Moda diseminasi informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami (PDT) menggunakan frekuensi radio VHF, yang merupakan hasil inovasi stasiun Geofisika Banjarnegara. Outputnya berupa informasi gempa dan PDT berbasis suara yg disiarkan secara otomatis oleh jaringan radio VHF milik BPBD," jelas Setyo.

Dengan adanya inovasi tersebut, Setyo berharap informasi bencana tsunami dapat diinformasikan ke seliruh masyarakat dengan cepat. Dengan begitu, masyarakat bisa segera menjauhi kawasan pantai dan mencari tempat lebih aman.

"Diharapkan mampu menjangkau daerah blank spot provider seluler dan para relawan dilapangan dapat mengandalkan perangkat HT sebagai alat komunikasi dan bisa juga dipahami oleh kelompok masyarakat tuna netra atau aksara yang memiliki keterbatasan menelaah info dari BMKG," pungkas Setyo.


(DEN)