Jalan Provinsi dan Nasional di Jepara Bergelombang

Rhobi Shani    •    Kamis, 26 Oct 2017 12:11 WIB
jalan rusak
Jalan Provinsi dan Nasional di Jepara Bergelombang
Nampak bekas perbaikan jalan berupa penambalan di ruas jalan nasional, Jl Soekarno – Hatta Km.6 Jepara, Jateng. MTVN/Rhobi

Metrotvnews.com, Jepara: Kondisi ruas jalan provinsi dan nasional di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, saat ini bergelombang. Beberapa lubang nampak di ruas jalan nasional.
 
Pantauan Metrotvnews.com, jalan nasional yang kondisinya bergelombang nampak di Jalan Soekarno Hatta Km. 4 hingga Km. 7. Kondisi jalan yang gelombang mengakibatkan pengguna jalan menjadi tidak nyaman saat melaju. Kedalaman gelombang jalan bervariatif.
 
Kondisi serupa juga nampak di jalan provinsi, yaitu ruas Jepara-Bangsri, tepatnya di ruas Kecamatan Mlonggo. Meski tidak separah tahun lalu, jalan yang sudah diperbaiki ini kondisinya masih bergelombang.
 
Kepala Bidang Bina Marga pada Dinas Perkerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Hartaya menyampaikan, tahun ini sejumlah ruas jalan provinsi dan nasional sudah dilakukan perbaikan. Itu seperti pekerjaan penambalan jalan yang berlubang.
 
“Kewenangan perbaikan jalan nasional dan provinsi bukan di daerah. Saya sudah berkoordinasi dengan mereka (provinsi dan pusat), tahun depan akan ada perbaikan dan pelebaran jalan,” ujar Hartaya, Kamis 26 Oktober 2017.
 
Haraya bilang, ruas jalan provinsi yang direncanakan akan dilakukan peningkatan dan pelebaran jalan yaitu ruas Jalan Sunan Mantingan – Panggung. Tanda ruang milik jalan pun sudah dipasang. Namun, berapa total pelebaran jalan, Hartaya mengaku belum mendapat informasi.
 
“Untuk jalan nasional, beberapa titik tahun iuni sudah dilakukan penambalan dan peningkatan seperti di Purwogondo,” kata Hartaya.
 
Ditanya alokasi anggaran infrastruktur Kabupaten Jepara tahun 2018, Hartya menambahkan, dia belum dapat menyebut angka pasti. Pasalnya, sampai saat ini rencana anggaran infrastruktur masih dalam tahapan penyusunan.
 
“Sampai kemarin anggaran masih berubah-berubah. Nanti kalau sudah pasti jadi RKA baru saya berani bilang. Dengan adanya devisit, yang semula anggrannya tinggi akhirnya dipotong,” pungkas Hartaya.


(ALB)