UGM Tawarkan Konsep EcoDRR Solusi Pengurangan Risiko Bencana

Patricia Vicka    •    Kamis, 22 Sep 2016 16:29 WIB
penanggulangan bencana
UGM Tawarkan Konsep EcoDRR Solusi Pengurangan Risiko Bencana
Guru Besar dan Ahli geomorfologi kebencanaan UGM Muhammad Aris Marfa’i saat menjelaskan konsep EcoDRR -- MTVN/Patricia Vicka

Metrotvnews.com,Yogyakarta: Bencana alam yang sering terjadi di Indonesia memicu sejumlah akademisi dan peneliti di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta untuk menghadirkan solusi. Akadenisi dari Fakultas Geografi UGM menawarkan Ecosystem Based Disaster Risk Reduction (EcoDRR) yang diklaim mampu mengurangi risiko bencana.

"EcoDRR menekankan pada pemberian perhatian dan optimalisasi jasa lingkungan dengan pemantauan intervensi manusia terhadap lingkungan secara berkala," kata Guru Besar dan Ahli geomorfologi kebencanaan UGM Muhammad Aris Marfa’i di Yogyakarta, Kamis (22/9/2016).

Aris menuturkan, berbagai praktik pengaplikasian EcoDRR sudah bayak dilakukan di negara Asia, seperti pengelolaan lahan berbasis masyarakat guna mencegah kekeringan, banjir, maupun longsor. Termasuk manajemen sumber daya pesisir untuk mencegah peningkatan muka air laut, tsunami, ataupun abrasi, hingga pengendalian sistem hidrologis perkotaan untuk meminimalisir genangan banjir.

Sayangnya, praktik EcoDRR belum banyak mendapatkan perhatian pemerintah Indonesia saat pengambilan keputusan. UGM sebagai lembaga pendidikan, berupaya memberi edukasi konsep pengurangan resiko bencana berbasis lingkungan ini dengan mengadakan Summer Short Course on Ecosystem Based Disaster Risk Reduction (SSC EcoDRR) pada 14 - 28 September 2016 di Jakarta dan Yogyakarta.

Selain sebagai wahana dukasi, SSC EcoDRR bertujuan memperluas wawasan dan pegetahuan mengenai solusi pengurangan risiko bencana yang berkelanjutan dengan memanfaatkan pendekatan ekologis. Kegiatan ini diikuti 48 mahasiswa dari enam negara, yakni Nepal, Bangladesh, Filipina, Malaysia, Timor Leste, dan Indonesia.

"Kegiatan ini memberikan peluang dialog antara akademisi, pengambil keputusan, serta praktisi yang bergerak di bidang EcoDRR. Diharapkan menjadi ajang bagi mahasiswa dari berbagai negara bertukar informasi dan pengalaman mengenai EcoDRR dalam berbagai format kegiatan, baik diskusi di kelas, kegiatan lapangan, hingga praktikum singkat," tutur Aris juga menjabat sebagai Ketua Pelaksana SSC EcoDRR.

Sepanjang 2015, setidaknya ada 162 kejadian bencana. Berdasarkan data dan informasi bencana Indonesia, jumlah korban meninggal mencapai 9.333 jiwa, 22.855 jiwa luka-luka, 1.418.947 mengungsi, 108.994 rumah rusak ringan, 96.317 rumah rusak berat, dan 274 hektare lahan mengalami kerusakan.


(NIN)