Perajin Tali di Brebes Menganggur karena Larangan Cantrang

Kuntoro Tayubi    •    Rabu, 10 Jan 2018 11:02 WIB
cantrang
Perajin Tali di Brebes Menganggur karena Larangan Cantrang
Perajin tambang di Desa Kubangwungu, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Foto: Medcom.id /Kuntoro Tayubi

Brebes: Dampak larangan penggunaan alat tangkap kapal tidak ramah lingkungan, seperti jenis cantrang, juga berimbas pada pengrajin tali kapal di Desa Kubangwungu, Kecamatan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sebagian besar pengrajin tali kapal di desa tersebut berhenti memproduksi.

"Sejak akhir November lalu sebagian besar pengrajin tali mulai berhenti produksi. Ini tidak lain tidak ada pesanan dari para pemilik kapal," kata perajin tali kapal Mukhlisin Selasa, 9 Januari 2018.

Sebelum ada larangan cantrang, dia, kapasitas produksi tali kapal di Desa Kubangwungu mencapai 300 ton per bulan. Bahkan, omzet dari pembuatan tali kapal bisa mencapai miliaran.

Namun adanya larangan penggunaan cantrang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), permintaan tali kapan turun drastis. Bahkan, akhir November lalu ada sebagian perajin tali kapal berhenti beroperasi.

Tak berbeda dengan Mukhlisin, Amin salah seorang pengrajin tali kapal lainnya mengungkapkan hal yang sama. Sebanyak 40 pekerjanya kini telah menganggur karena sudah tidak ada lagi yang dikerjakan.

Ia  mengaku sudah menekuni usaha tali tambang ini sejak 1983 dan hingga kini usahanya masih berjalan. Puluhan pekerjanya berasal dari warga setempat. Hasilnya dipasok untuk kebutuhan kapal di berbagai pelosok di tanah air.

"Usaha ini warisan leluhur. Setiap minggu saya biasa mengirim 3 hingga 4 truk bermuatan 5 ton tambang setiap truknya. Sebagian besar ibu rumah tangga di desa ini (Kubangwungu) berprofesi sebagai buruh tali dengan Upah Rp35 ribu per hari," kata dia.

(Baca: Tambang dari Brebes untuk Nelayan Indonesia)

Ia tidak bisa membayangkan jika pelarangan tersebut diberlakukan. Pasalnya, sebagian masyarakat mengandalkan perekonomian dari pembuatan tali kapal.

"Kini hanya sebagian kecil pengrajin tali kapal yang tersisa yang melayani pesanan dari Madura, Jawa Timur. Namun itu juga tidak sebanyak dulu," pungkasnya.

Kepala Desa (Kadesa) Kubangwungu, Sewa mengatakan, usaha tali kapal merupakan warisan turun temurun sejak puluhan tahun yang lalu. Bahannya, kata dia, terbuat dari limbah tekstil. Dengan kata lain ikut memperdayakan ekonomi masyarakat desa.

"Usaha tali kapal ini merupakan tulang punggung perekonomian warga untuk menghidupi keluarganya. Sebagian besar warga Desa Kubangwungu menjadi perajin tali kapal, jumlahnya ada ratusan. Sekarang nasibnya memprihatinkan," jelasnya.


 


(SUR)