Lafran Pane, Sosok Pendiri HMI yang Menolak Fasilitas Pribadi Mewah

Patricia Vicka    •    Rabu, 08 Nov 2017 00:22 WIB
pahlawan
Lafran Pane, Sosok Pendiri HMI yang Menolak Fasilitas Pribadi Mewah
Spanduk doa bersama menjelang pengukuhan pendiri HMI, Lafran Pane, sebagai Pahlawan Nasional, MTVN - Vicka

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Nama Lafran Pane tak asing lagi bagi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Lafran dikenal sebagai akademis yang sederhana namun pemikirannya tentang Islam mengakar di benak aktivis HMI.

Pada Februari 1947, pria kelahiran Padang Sidempuan itu mendirikan HMI. Namun ia tak sendiri. Sekelompok aktivis turut mendirikan organisasi mahasiswa itu. Di antaranya Kartono Zarkasy, Hasan Basri hingga Maisaroh Hilal yang merupakan cucu pendiri organisasi masyarakat Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.

Baca: Doa Bersama Jelang Pengukuhan Gelar Pahlawan untuk Pendiri HMI

Saat itu, Lafran dan teman-temannya mendirikan HMI sebagai aktualisasi pandangan tentang Islam dan Indonesia. Tujuannya mengubah pandangan yang menyebutkan Islam sebagai sekumpulan kaum yang mempertahankan tradisi dan pengetahuan tradisional. Namun HMI menunjukkan, melalui pemikiran mahasiswa, Islam menjadi ide mempersatukan umat.

Di balik pemikirannya itu, keluarga mengenal Lafran sebagai pribadi yang sederhana. Lafran tak pernah mau dianggap sebagai orang hebat. Meski dikenal terpandang di kalangan HMI, Lafran ternyata tak memiliki rumah sepanjang hayatnya.

Tofani Arief Budiman Pane berbagi kisah mengenai kehidupan kakeknya. Selama hidup, kakek dan keluarga tinggal di rumah dinas. Saat itu, Lafran menjadi dosen di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) yang kini menjadi Universitas Negeri Yogyakarta.


(Tofani Arief Budiman Pane, cucu pertama Lafran Pane, MTVN - Patricia Vicka)

"Beliau tidak punya rumah pribadi. Beliau dan keluarga tinggal di kompleks Rumah Dinas IKIP di Karang Malang di daerah Gejayan hingga beliau menghembuskan napas terakhirnya," kata Tofani di acara doa bersama menjelang pengukuhan Lafran Pane sebagai Pahlawan Nasional di Yogyakarta, Selasa 7 November 2017.

Kesederhanaan lain dari pria kelahiran 5 Februari 1922 itu adalah tunggangannya. Sehari-hari, Lafran mengandalkan sepeda untuk transportasi. Lafran selalu menolak ajakan untuk membeli sepeda motor, apalagi mobil. Bila bepergian jauh, Lafran menggunakan becak atau angkutan umum.

Lafran pernah menjadi anggota Dewan Penasihat Presiden di era kepemimpinan Soeharto. Sebagai orang di lingkaran Presiden, Lafran mendapat fasilitas mobil dan rumah pribadi. Tapi Lafran menolak. Ia memilih hidup sederhana di rumah dinas yang dirinya tempati.

Tapi, tutur Tofani, kakeknya itu memiliki karakter yang kuat, disiplin, taat aturan, dan berbudaya. Tofani masih ingat betul peraturan berbudaya di keluarganya, dulu. Yaitu duduk dan makan bersama di meja makan.

"Jadi makanan hanya ada saat jam makan. Semua anggota keluarga harus makan di meja makan. Di luar jam makan, tidak ada makanan di meja makan," kisah Tofani yang berprofesi sebagai wirausaha itu.

Lafran menikah dua kali semasa hidupnya. Dari istri pertama, Lafran dikaruniai tiga anak, 6 cucu, dan 7 cicit. Beberapa tahun setelah istri pertama wafat, Lafran kembali menikah.

Usia pernikahan keduanya belum genap 10 bulan saat Lafran wafat. Dari pernikahan kedua itu, Lafran tak dikaruniai anak.

Lafran merupakan anak keenam dari Sutan Pangurabaan Pane dan istri pertamanya. Lafran bersaudara kandung dengan dua sastrawan ternama, Sanusi Pane dan Armijn Pane. Ayahnya merupakan salah satu pendiri Muhammadiyah di Sipirok, Tapanuli Selatan.

Kesederhanaan Lafran juga dituturkan kerabat, Siti Hadiroh Ahmad, 72. Saat istri pertama wafat, Dewi, Lafran menyerahkan seluruh harta sang istri ke organisasi perempuan Islam, Aisiyah. Istrinya merupakan anggota organisasi tersebut.

"Saya teman satu organisasi dengan Bu Dewi. Usai pemakaman Bu Dewi, Pak Lafran memanggil saya. Ia menyerahkan semua tabungan, perhiasan, dan barang-barang Bu Dewi kepada saya, untuk Aisiyah. Sungguh mulia perbuatan beliau," kisah Siti Hadiroh yang juga hadir di acara doa bersama di makam Lafran Pane di Karangkajen.

Semangat Lafran masih membekas di benak Siti Hadiroh. Misalnya menanamkan nilai keislaman dan Pancasila pada kader HMI. Lafran, ungkap Siti, tak pernah berhenti mengingatkan pada teman-temannya tentang penyebaran hukum Islam harus sejalan dengan nilai Pancasila.

Lafran merupakan satu dari empat tokoh yang dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional. Upacara pengukuhan dipimpin langsung Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta pada 9 November 2017.


(RRN)