Kekeringan Melanda Tiga Kabupaten di DIY

Ahmad Mustaqim    •    Rabu, 08 Aug 2018 11:24 WIB
kemarau dan kekeringan
Kekeringan Melanda Tiga Kabupaten di DIY
Ilustrasi kekeringan, Medcom.id - M Rizal

Yogyakarta: Sebanyak 88 desa di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami kekeringan di musim kemarau 2018 ini. Desa-desa itu tersebar di wilayah Gunungkidul, Kulon Progo, dan Bantul. 

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Biwara Yuswantana mengatakan belum perlu ada peningkatan status darurat kekeringan dari lembaganya. Menurut dia, situasi itu bisa ditangani dengan memberikan bantuan air bersih ke berbagai wilayah terdampak kekeringan. 

"Pendistribusian air bersih masih bisa dilakukan di Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo. Kami sesuaikan permintaan yang masuk," kata Biwara, Rabu, 8 Agustus 2018. 

Kabupaten Gunungkidul masih menjadi wilayah yang paling luas terdampak kekeringan. Sebanyak 54 desa di 11 kecamatan yang kesulitan air bersih. Adapun 54 desa itu terdapat 116.216 jiwa terdampak. 

Kemudian, Kabupaten Kulon Progo menjadi wilayah kedua paling terdampak musim kemarau. Ada sebanyak 32 desa di delapan kecamatan mengalami kekeringan. Dengan perkiraan dua bulan ke depan belum turun hujan, kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan bisa mencapai 4 ribu KK. Sementara biru, di Kabupaten Bantul ada Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri dan Desa Muntilan, Kecamatan Dlingo yang mengalami kekeringan. 

Dari tiga kabupaten itu, Kulon Progo telah berstatus tanggap darurat kekeringan. Menanggapi kondisi itu, Biwara mengatakan BPBD DIY belum perlu meningkatkan status sebagaimana yang dilakukan Pemkab Kulon Progo. 

"Kami kira (bantuan air bersih) masih bisa meng-cover daerah (terdampak) kekeringan. BMKG juga belum memberikan rekomendasi soal (peningkatan status) itu," ungkapnya. 

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengungkapkan anggaran dana penanggulangan kekeringan dari lembaganya baru terpakai Rp250 juta dari total anggaran Rp600 juta. Menurut dia, situasi itu masih bisa memungkinkan untuk bisa mengatasi kekeringan dalam beberapa pekan ke depan. 

""Enam mobil tangki kami selalu beroperasi untuk mengirim bantuan air bersih. Per hari kami bisa menyalurkan 24 tangki (air bersih). Sampai saat ini kami juga mendapat bantuan dari pihak ketiga," kata dia. 

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Djoko Budiyono menambahkan, ada baiknya pemerintah daerah mengantisipasi sejak dini kondisi kekeringan di lapangan. "Khususnya daerah yang hanya mengandalkan air hujan atau tadah hujan," ungkapnya. 


(RRN)