Petani Garam Berharap Keran Impor tak Dibuka

Rhobi Shani    •    Selasa, 25 Jul 2017 13:27 WIB
harga garam
Petani Garam Berharap Keran Impor tak Dibuka
Ilustrasi: Petani garam mengangkut hasil panen. (Metrotvnews.com/Ahmad Rofahan)

Metrotvnews.com, Jepara: Harga jual garam di tingkat petani Jepara, Jawa Tengah, menyentuh angka Rp3.000 per kilogram dari semula Rp300-Rp500/kg. Petani berharap harga tinggi bertahan, tanpa terganggu wacana impor garam.

Apalagi, belum semua petani menikmati harga tinggi. Cuaca tak menentu menjadi kendala utama produksi garam petani.

Petani garam di desa Panggung, kecamatan Kedung, Jepara, Sukahar, misalnya. Dia mengaku baru bisa panen satu kali selama tiga bulan terakhir. Sebab, hujan sesekali masih mengguyur tambak garamnya. Sehingga, waktu panen terpaksa mundur.
 
“Meskipun harga tinggi, selama tiga bulan ini baru bisa panen sekali. Kecuali panasnya mendukung, bisa beberapa kali panen,” ujar Sukahar, Selasa 25 Juli 2017.

Dia malah mengeluh kalau hasil panen kali ini belum bisa menutupi biaya tanam musim sebelumnya. Saat ini, tambak garam seluas 1 hektare hanya mampu menghasilkan kurang dari 100 ton garam.

Padahal, kata dia, jika cuaca benar-benar terik, luas tambak yang sama mampu menghasilkan 120 ton garam. Makanya, dia tidak setuju bila pemerintah membuka keran impor garam.
 
Senada disampaikan Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tirta Petani, Lafik. Dia meminta pemerintah mampu mempertahankan harga jual garam saat ini. Caranya dengan tidak membuka keran garam impor.   
 
“Karena kalau sampai ada garam impor, harga pasti akan langsung anjlok,” tegas Lafik.
 
Terbatasnya stok garam saat ini, ditambahkan Lafik, lantaran hasil panen belum maksimal. Lahan garam berukuran 12x30 meter bisa menghasilkan garam 2 ton. Lantaran masih dipengaruhi faktor cuaca, saat ini hanya mampu menghasilkan 1,5 ton.


(SAN)