Polda DIY Klaim Selesaikan 90 Persen Kasus Kejahatan Jalanan

Ahmad Mustaqim    •    Senin, 07 Jan 2019 19:01 WIB
kejahatan
Polda DIY Klaim Selesaikan 90 Persen Kasus Kejahatan Jalanan
Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.

Yogyakarta: Polda Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat terjadi sebanyak 49 kasus klithih (kekerasan yang terjadi di jalanan) selama 2018. Pihak kepolisian mengklaim bisa menangani 90 persen kasus yang ada tersebut.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY, Komisaris Besar Hadi Utomo mengatakan, sebagian besar pelaku mengonsumsi obat-obatan lebih dulu sebelum beraksi. Kasus yang diungkap itu baik yang menimbulkan korban jiwa maupun korban luka.

"Profil seluruh tersangka, 90 persen kita tangkap di rumah orang tuanya. Pelaku membuktikan kalai mereka pulang ke rumah setelah melakukan kekerasan," kata Hadi di Mapolda DIY, Senin, 7 Januari 2019. 

Menurut Hadi, tindakan kekerasan tersebut tak sepenuhnya dilakukan tanpa motif. Sebab, kata dia, sebagian pelaku memiliki rasa ingin membalas atau tak mau dilecehkan.

"Merek biasanya ngomong, 'Kamu anak mana?', 'Kamu grup mana?' Ini memunculkan motif untuk melakukan penganiayaan," ungkap Hadi.

Hadi mempertanyakan peran keluarga di rumah. Misalnya, ia melanjutkan, orang tua seharusnya menegur saat mendapati anaknya pulang tengah malam atau dini hari. 

"Le koe seko ngendi, kok raimu bunyak-bunyak. Kowe ketoke durung turu. (Nak, kamu dari mana, kok wajahmu terdapat luka. Kamu sepertinya belum tidur?) Itu yang harus dilakukan," beber Hadi.

Hadi berujar, saat para pelaku tertangkap, orang tuanya selalu mengatakan sang anak tak memiliki masalah. Tak hanya itu, tetangga saat melihat anak-anak pulang tengah malam atau dini hari harus menegurnya.

Biasanya, saat terduga pelaku tersebut pulang tak membawa peralatan atau senjata tajam yang dilakukan untuk bertindak kekerasan. Para pelaku meninggalkan senjata di lokasi lain untuk mendapat rasa aman saat ada razia.

"Saya tidak mau menyebut klithih, ini adalah penganiayaan jalanan. Kalau klithih tak ada motif. Seluruh pelaku ternyata punya motif. Pelaku melakukan kekerasan karena tak mau direndahkan," pungkas Hadi.


(DEN)