Indonesia Harus Terapkan Praktik Kolaborasi Interprofesi Kesehatan

Pythag Kurniati    •    Jumat, 13 Oct 2017 20:32 WIB
dokter dan kesehatan
Indonesia Harus Terapkan Praktik Kolaborasi Interprofesi Kesehatan
Ilustrasi. MTVN/M Rizal

Metrotvnews.com, Solo: Kesalahan medis menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Amerika Serikat. Untuk mengindari hal ini, kolaborasi antarprofesi tenaga kesehatan (interprofesional) perlu dikedepankan.

Bahkan, praktik kolaborasi interprofesi bidang kesehatan penting diterapkan mulai dari dunia pendidikan. "WHO pun mendorong negara-negara untuk menerapkan unsur tersebut," ungkap Ketua Pelaksana Asia Pasific Interprofessional Education and Collaboration (APIPEC), Daniel R. Kambey, Solo, Jawa Tengah, Jumat 13 Oktober 2017.

Tenaga kesehatan di Indonesia masih dididik dan bekerja secara terpisah. Praktik kolaborasi kesehatan antara tenaga kesehatan belum maksimal.

Indonesia harus segera mengadopsi sistem layanan kesehatan seperti yang diterapkan beberapa negara Asia Pasifik. Tiga negara yang dinilai telah berhasil menerapkan pendidikan dan praktik kolaborasi kesehatan yakni Jepang, Thailand serta Singapura.

"Oleh karenanya, dalam konferensi, beberapa perwakilan negara hadir untuk bertukar pengalaman mengenai hal ini," imbuh dia.


Jumpa pers konferensi Asia Pasific Interprofessional Education and Collaboration di Solo, Jumat, 13 Oktober 2017. MTVN/Pythag Kurniati

Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Pelayanan Kesehatan, Akmal Taher, mendukung pendidikan interprofesional serta praktik kolaborasi diterapkan. "Hal tersebut akan meningkatkan efektifitas pelayanan kesehatan. Baik dari segi biaya dan lainnya," beber Akmal.

Tenaga kesehatan yang dididik dan bekerja bersama dalam satu tim akan menghasilkan indikator kesehatan yang lebih baik. Selain dibutuhkan perbaikan kurikulum di level pendidikan, juga dibutuhkan regulasi pembentukan tim kerja dalam pelayanan kesehatan.

"Jadi ada dua regulasi yang dibutuhkan dalam hal ini. Regulasi menyangkut proses pendidikan serta regulasi dalam melakukan pekerjaan. Itu yang sedang kita kerjakan," urai dia.

Konferensi APIPEC dihadiri kurang lebih 200 orang peserta dari berbagai daerah dan negara. Tercatat ada sepuluh negara yang berpartisipasi, antara lain Singapura, Thailand, Hong Kong, Malaysia, Bangladesh dan Jepang.

Ratusan peserta terdiri dari para praktisi, akademisi, peneliti, pemangku kepentingan dan pemangku kebijakan bidang kesehatan di Asia Pasifik. Konferensi ini akan berlangsung mulai 13 Oktober hingga 15 Oktober 2017.


(SUR)