Belasan Ribu Anak di Tegal Putus Sekolah

Kuntoro Tayubi    •    Selasa, 19 Dec 2017 11:34 WIB
pendidikan
Belasan Ribu Anak di Tegal Putus Sekolah
Sejumlah orangtua dan siswa menunjukkan rapor anaknya di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Foto: Medcom.di/Kuntoro Tayubi

Tegal: Belasan ribu anak di Kabupaten Tegal putus sekolah. Mereka putus sekolah di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Tegal Bakhrun  mengungkap anak putus sekolah di Kabupaten Tegal sebanyak 11.878. Jumlah itu terbanyak di Kecamatan Bumijawa yang mencapai 1.289 anak.

Disusul Kecamatan Bojong sebanyak 1.070 anak, Kecamatan Margasari (1.028 anak), Kecamatan Balapulang (845 anak), Kecamatan Suradadi (711 anak), Kecamatan Tarub (694 anak), Kecamatan Jatinegara (682 anak), dan Kecamatan Warureja (646 anak). Masih banyak kecamatan lain yang memiliki ratusan anak tak mengecap pendidikan.

"Anak putus sekolah ini harus dicarikan alasannya. Jika alasannya karena ekonomi, kita bisa bantu dengan memberikan beasiswa," kata politikus Partai Keadialan Sejahtera (PKS) ini di kantornya, Senin, 18 Desember 2017.

Dia mensinyalir, anak putus sekolah memiliki banyak alasan selain terhimpit ekonomi. Salah satunya karena anak itu sudah nyaman bekerja. Di beberapa wilayah, anak usia sekolah yang bekerja cukup banyak.

Kondisi itu harus disikapi dengan melakukan pembinaan, dan sosialisasi. Tidak hanya kepada anak yang putus sekolah, tapi juga kepada orangtua anak. "Anak yang sudah bekerja bisa diikutkan kejar paket," ujarnya.

DPRD bersama Pemkab Tegal telah menganggarkan Rp4 miliar untuk program pengentasan anak putus sekolah. Program baru itu dilakukan untuk mendongkrak angka Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM), yang salah satunya ditopang oleh bidang pendidikan. Dalam bidang itu, angka putus sekolah cukup tinggi.

"Ini harus dikonsep secara matang. Butuh bantuan semua elemen masyarakat untuk menyukseskan program ini," pintanya.

Dia menambahkan, faktor ekonomi seharusnya bukan menjadi halangan dalam sekolah. Sebab, pendidikan di tingkat SD dan SLTP telah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Siswa tidak dibebani biaya pendidikan.

"Faktor ekonomi kadang juga kerap menjadi salah satu faktor putus sekolah," imbuhnya.
 


(SUR)