Jatuh saat SD, Erry tak Bisa Jalan hingga Remaja

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 01 Nov 2016 10:21 WIB
kaum difabel
Jatuh saat SD, Erry tak Bisa Jalan hingga Remaja
Tatik Sukilah saat menggendong putranya, Erry Susilo usai menjumput sekolah dengan menyewa ojek. (Foto-foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Tatik Sukilah, 47, harus memberikan perhatian lebih pada anak keempatnya, Erry Susilo. Tiap pagi, dia harus menggendong remaja 16 tahun itu ke sepeda motor yang akan mengantarnya ke sekolah.

Tatik harus melakukan itu lantaran Erry mengalami pelemahan otot di sebagian besar anggota tubuhnya, kecuali tangan dan kepala.

Erry menyandang pelemahan otot sejak awal masuk SD Lempuyangan. Saat itu, Erry terjatuh saat di rumah kontrakan orangtuanya di Ledoktukangan DN II/143 RT8/RW2 Kelurahan Tegalpanggung, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta.

"Tiba-tiba waktu itu kaki anak saya lemas, dan tidak bisa berjalan," kata Tatik kepada Metrotvnews.com, Selasa (1/11/2016).

Berbagai jenis dan metode pengobatan ditempuh Tatik. Dokter memvonis Erry menderita pelemahan otot. Upaya pengobatan alternatif pun ditempuh. Tapi belum bisa membuat Erry pulih.

Meski begitu, Tatik tak ingin Erry meninggalkan sekolah. Jadilah tiap pagi dia mengantar anak keempatnya itu ke sekolah. 


Tatik menggendong Erry saat pulang sekolah.

Di sela anaknya sekolah, Tatik mengupayakan pengobatan anaknya dengan biaya berapapun. Bahkan ia batal membangun rumah meskipun hampir semua material sudah disiapkan.

"Kami jual kembali untuk pengobatan Erry. Saya rela asal anak saya bisa sembuh," ungkapnya.

Berbagai macam upaya Tatik lakukan agar Erry bisa berjalan. Harapan sempat muncul saat melakukan pengobatan alternatif di Wonosari Gunungkidul. Saat itu, Erry sempat bisa berjalan dan Tatik segera membawa pulang melakukan syukuran.

Akan tetapi, keesokan harinya Erry kembali tak bisa jalan. "Habis itu Erry dibawa lagi ke Wonosari tapi tidak bisa jalan lagi," ujarnya.

Setelah itu, Tatik mencoba membawa Erry ke seorang dokter. Di momen itu, dokter mengatakan bahwa tak ada obat apapun untuk menyembuhkan anaknya. Sang dokter hanya mengatakan, obat bagi Erry hanya kasih sayang ibu dan disarankan banyak mengonsumsi madu.

"Kayak dengar petir di siang bolong dengar itu. Tak bisa apa-apalagi karena sudah habis-habisan buat pengobatan," ujar Tatik.

Untuk merawat Erry, Tatik kini hanya tinggal di sebuah kontrakan dengan ukuran sekitar 4 meter x 5 meter di lingkungan padat penduduk tak jauh dari Sungai Code.

Ia tinggal bersama suaminya, Bari Riyadi, 56, yang bekerja jadi sopir ketering dengan pendapatan tak tentu. Tatik hanya bekerja sebagai penjual kue berpenghasilan Rp400 ribu per bulan.

Terkadang, ia bekerja sebagai buruh cuci dengan penghasilan Rp10 ribu per hari. Sementara, dua anaknya, Anik Supadmi dan Anto berada di Jakarta serta sudah berkeluarga. Sedangkan, anak ketiganya, Mikael Septiawan belum bekerja.

"Sejak SD sampai SMA sekarang, Erry saya antar terus kalau ke sekolah. Yang penting Erry terus semangat belajar, saya sudah senang," katanya.


(SAN)