Jateng Antisipasi Kekeringan dan Kebakaran Hutan

Budi Arista Romadhoni    •    Jumat, 03 Aug 2018 10:59 WIB
kebakaran hutankemarau dan kekeringan
Jateng Antisipasi Kekeringan dan Kebakaran Hutan
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal

Semarang: Stasiun Klimatologi Klas I Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Semarang meminta masyarakat untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan memasuki puncak musim kemarau. Pasalnya, potensi kebakaran semakin menguat seiring adanya perubahan arah angin muson yang cenderung berhembus dari tenggara Australia.

"Dengan munculnya angin muson dari Australia telah membuat suhu udara menjadi sangat kering, memunculkan banyak debu. Kejadian kebakaran bisa saja terjadi bila ada gesekan rumput-rput kering di lereng Merbabu maupun Merapi," kata Kepala Stasiun Klimatologi Klas I (BMKG) Kota Semarang, Tuban Wiyoso, saat dihubungi di Semarang, Jumat, 3 Agustus 2018.

Tuban menyebut puncak musim kemarau akan terjadi mulai awal bulan ini sampai pertengahan September nanti. Ia mengingatkan kepada para Kepala Daerah di 35 kabupaten/kota supaya segera mengeluarkan imbauan kepada warga untuk menjaga kesehatan dan antisipasi kebakaran.

Saat ini, hampir semua daerah di Jawa Tengah telah memasuki puncak kemarau. Ia memperkirakan musim hujan pada pertengahan Oktober sampai November nanti.

"Baru Oktober atau November nanti Jateng mengalami musim penghujan," terangnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan sudah berkoordinasi dan mensosialisasi mencegah terjadinya kebakaran hutan.

"Kita sudah koordinasi dengan sektor2 lain. Masyarakat, instansi Kami sudah bergerak. Yang daerah rawan kebakaran kita Sosialisasikan kita jaga bareng-bareng. Hal hal yang dapat mematik api kita cegah, masyarakat juga kita latih," ucapnya.

Ganjar juga mengungkapkan, jajarannya sudah memetakan lokasi-lokasi rawan kekeringan dan sudah menyediakan tangki-tangki pengangkut air bersih dari pemerintah, CSR dan Masayarakat.

"Hampir semua kab dan kota rawan kekeringan. Yang langganan ya Wonogiri Grobokan, Blora , dan daerah daerah tinggi yang memang sumber airnya kurang," ujarnya.

 


(SUR)