BPOM Gerebek Pabrik Susu Kambing Rumahan Ilegal

Kuntoro Tayubi    •    Kamis, 29 Mar 2018 10:59 WIB
pabriknelayan ilegalbpom
BPOM Gerebek Pabrik Susu Kambing Rumahan Ilegal
Petugas gabungan BPOM dan Ditreskrimsus Polda Jateng menggerebek pabrik susu Ilegal di Tegal, Jawa Tengah. (Medcom.id/Kuntoro Tayubi)

Tegal: Petugas gabungan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Semarang, Jawa Tengah, menggerebek pabrik susu kambing rumahan tanpa izin edar merek Aumom di  Kabupaten Tegal dan Brebes, pada Rabu, 28 Maret 2018. 

Penggerebekan dilakukan setelah mendapat laporan masyarakat yang mencurigai kode produksi pada kemasan susu. 

"Kami bersama petugas Ditreskrimsus Polda Jateng menemukan ribuan susu kambing kemasan yang siap didistribusikan tanpa izin edar di Kabupaten Tegal dan Brebes,” kata Kepala BPOM, Endang Pudjiwati, usai penggerebekan, Rabu, 28 Maret 2018.

Endang menuturkan, di Kabupaten Tegal petugas menyisir dua lokasi yakni di Desa Wamhamdawa, Kecamatan Talang, Slawi dan di Brebes. Di Desa Wangandawa, petugas menemukan 2.229 kotak susu kambing kemasan.  Sedangkan di Brebes, petugas juga menemukan 771 kotak susu kambing. 

“Dari empat lokasi di Kabupaten Tegal dan Brebes, petugas menyita sebanyak 2.800 kotak susu kemasan tanpa izin edar. Selain tanpa izin edar, sarana produksi juga tidak memenuhi persyaratan sanitasi dan higienitas. Dikhawatirkan berbahaya jika dikonsumsi,” ungkapnya.

Industri rumahan susu kemasan diketahui sudah berjalan hampir dua tahun. Susu kemasan itu dijual melalui daring. Setiap datang permintaan bisa memproduksi hingga 20.000 kotak. 

“Karena susu itu harus terdaftar, jadi ini produk ilegal,” katanya.

Pemilik industri rumahan susu kambing Etawa kemasan, Nur Maghfirotus Solikha, mengaku menjual susu tanpa izin edar karena sedang proses perizinan BPOM. Namun hingga kini izin tersebut belum keluar.  Satu kotak susu kemasan 250 gram dijual Rp35 ribu. 
 
“Kalau produksi tidak lama sih, baru 2016. Bahan baku susu kambing murni dari Tegal,” ungkapnya.

Akibat perbuatannya, Nur terancam hukuman pidana dua tahun penjara dan denda maksimal Rp4 miliar karena melanggar UU Pangan. Dalam penggerebekan itu, petugas menyita sejumlah barang bukti berupa ribuan susu kemasan, mesin pres, dan dua buah timbangan digital.


(LDS)