Dua Karyawan SLB Negeri Jepara ikut Asean Deaf Games

Rhobi Shani    •    Senin, 10 Sep 2018 13:24 WIB
Dua Karyawan SLB Negeri Jepara ikut Asean Deaf Games
Pradono Desiriyanto bermain bola di halaman belakang SLB Negeri Jepara. Medcom.id/Rhobi Shani

Jepara: Dua karyawan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Jepara bakal berlaga dalam ajang Asean Deaf Games, Bangkok, Thailand. Pradono Desiriyanto dan Agus Sabtono masing-masing terpilih sebagai kiper tim nasional (timnas) sepak bola tuna rungu dan atlet lari estafet 4 x 100 meter.

Dadan, panggilan Pradono Desiriyanto, mengaku harus mengikuti beberapa kali seleksi untuk bisa bergabung dengan timnas. Dadan setidaknya harus tiga kali seleksi di Jepara dan Jakarta untuk bisa memakai bendera Indonesia.

"Pertama seleksi di sini (Jepara) terus dipanggil ASTI (Asosiasi Sepak Bola Tuli Indonesia) seleksi di Jakarta tiga kali,” ujar Dadan dalam bahasa isyarat didampingi guru SLB Negeri Jepara, Catur Gilang, Senin, 10 September 2018.

Setelah lolos seleksi, dia akan mengikuti pemusatan latihan pada Oktober mendatang sebelum bertolak ke Bangkok, Thailand. Selama ini dia berlatih sepak bola dan futsal bersama teman-temannya.

“Di sini (Jepara) tidak ada latihan khusus. Saya latihan sepak bola jadi kiper dengan teman-teman dan tetangga,” kata Dadan.


Pradono Desiriyanto mengikuti seleksi kiper timnas sepakbola tuna rungu di Ragunan Jakarta. Medcom.id/Rhobi Shani

Sebelum bergabung di timnas sepak bola, Dadan merupakan atlet lari. Sejumlah prestasi pernah diraihnya.

Pada kejuaraan Porprov Solo tahun 2009, Dadan menggondol tiga medali emas dari cabang lari 400 meter, 800 meter, dan 1.500 meter.

Sementara Agus Sabtono, atlet lari Asean Deaf Games, mengakui hal yang tidak berbeda dari Dadan. Agus mengaku latihan lari sendiri sebelum masuk pemusatan.

Setiap sore, bersama tiga teman tuna rungu lainnya, Agus berlatih lari di kawasan Alun-alun Jepara. "Tidak ada pelatih. Lari-lari sendiri sama teman. Sama Dadan juga," kata Agus.

Sampai saat ini Agus mengaku masih menuai kendala keuangan. Bantuan dari pemerintah yang diharapkan bisa turun belum ada kepastian hingga kini .

"Kalau harus biaya sendiri lebih baik tidak berangkat," tandas Agus.
(SUR)