Sistem Drainase Karimunjawa Buruk

Rhobi Shani    •    Selasa, 11 Oct 2016 14:14 WIB
karimunjawa
Sistem Drainase Karimunjawa Buruk
Genangan air hujan dari atas Bukit Joko Tuwo di depan Pasar Karimunjawa, Jepara, Jateng. (Metrotvnews.com/Ist)

Metrotvnews.com, Jepara: Menjadi primadona pariwisata Jawa Tengah, kepulauan Karimunjawa dikepung sejumlah masalah. Selain belum tersedianya tempat pembungan akhir (TPA), saluran air di permukiman warga juga buruk.

Setiap kali turun hujan, jalan di permukiman warga kerap tergenang. Terutama, wilayah di bawah Bukit Joko Tuwo. (Baca: Karimunjawa tak Punya Tempat Pembuangan Akhir)
 
Seperti yang terjadi hari ini, Selasa, 11 Oktober. Genangan air hujan paling parah tampak di depan Pasar Karimunjawa. Air mengalir deras dari Bukit Joko Tuwo membawa material tanah.
 
Camat Karimunjawa M Taksin menyampaikan, permasalahan ini sudah berulangkali dilaporkan ke Pemkab Jepara. Pasalnya, genangan air yang muncul setiap hujan turun ditengarai disebabkan buruknya saluran air.
 
“Tapi solusinya tidak hanya cukup perbaikan saluran air, kesadaran masyarakat menjaga lingkungan juga tidak kalah penting,” ujar Taksin.
 
Saluran air yang kini ada di wilayah pemukiman warga, Taksin melanjutkan, tidak dapat berfungsi normal. Saluran air tersumbat sampah, sehingga, air meluap ke jalan dan permukiman warga.
 
Sementara itu, warga menuding air yang meluap setiap turun hujan lantaran dampak aktivitas eksploitasi wilayah perbukitan. Saat ini marak pembangunan hotel, perumahan, dan objek wisata di wilayah perbukitan.
 
“Dulu sebelum marak pembangunan kalau hujan, ya, ada genangan tapi tidak separah seperti sekarang,” kata Djati, warga Karimunjawa.
 
Terpisah, Kasi Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Benca Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Pujo Prasetyo menyampaikan, aktivitas pembangunan hotel maupun home stay di wilayah perbukitan di Karimunjawa harus memperhitungan saluran pembuangan air. Sehingga, air yang mengalir dari atas bukit tidak meluber ke wilayah permukiman.
 
“Terutama di lokasi pengerukan atau pembangunan semestinya dibuatkan saluran air,” terang Pujo.
 
Meski terjadi eksploitasi pembangunan di wilayah perbukitan Karimunjawa, Pujo menandaskan, potensi bencana tanah longsor dan penurunan tanah tak mengintai Karimunjawa.
(SAN)