Wisatawan Bingung Malioboro Bebas PKL

Patricia Vicka    •    Selasa, 26 Sep 2017 13:43 WIB
pariwisata
Wisatawan Bingung Malioboro Bebas PKL
Kawasan Malioboro pagi ini tampak berbeda dibandingkan dengan hari biasa. Foto: MTVN/Patricia Vicka

Metrotvnews.com Yogyakarta: Kawasan Malioboro pagi ini tampak berbeda dibandingkan dengan hari biasa. Sejumlah wisatawan pun kebingungan atas perubahan yang terjadi.

Pedestrian sisi barat Malioboro tampak lengang. Biasanya, trotoar dipenuhi dengan lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL). Tak tampak kayu dan barang-barang jualan. Becak dan andong juga tak terlihat lagi ngetem. Jalanan kecil tempat andong dan becak biasa berlalu tampak kosong.

Wisatawan dan warga dapat berjalan kaki menikmati kawasan ini sambil di jalanan kecil sisi barat pedestrian. Sesekali, beberapa warga mengabadikan situasi unik yang baru terasa di Malioboro. Sementara sisi timur, gerobak angkringan ataupun gerobak soto yang biasa terparkir di pedestrian tak terlihat.

Beberapa warga malah tampak membersihkan jalur pejalan kaki. Mereka menyikat lantai dengan sabun berwarna putih. Beberapa pegawai toko-toko di Malioboro turut membersihkan selasar tempatnya berjualan. Sebagian terlihat mengelap kaca jendela toko. Apa pula yang menyapu halaman dan atap dari tumpukan daun-daun kering.


Pedestrian saat kegiatan perdana Selasa Wage Malioboro bebas PKL. Foto: MTVN/Patricia Vicka

Hari ini Malioboro bebas dari PKL seharian. Pedestrian diistarahatkan dari angkringan, lesehan dan PKL untuk dibersihkan.

Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, menyebut kegiatan perdana kali dilakukan di Yogyakarta. Tujuannya untuk memberi kesempatan wisatawan menikmati kawasan legendaris ini dengan lebih leluasa dan nyaman.

"Kami mau memberi kesempatan masyarakat melihat suasana Malioboro yang asli,  tanpa pedagang. Masyarakat dan wisatawan bisa mendapatkan sensasi menyatu dengan alam, lingkungan dan budaya di sini," tutur Heroe saat mengunjungi pedestrian Malioboro, Selasa 26 September 2017.

Namun ia menegaskan kegiatan ini bukan dalam rangka untuk melarang dan menyingkirkan PKL dari Malioboro. Sebab PKL tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Malioboro. Rencananya kegiatan Malioboro bebas PKL seharian ini akan terus digelar pada Selasa Wage atau setiap 35 hari sekali.

"Tiap bulan temanya beda-beda. Bulan ini temanya resik Malioboro. Maka kami mengajak pedagang, toko jualan, komunitas dan warga untuk bersih-bersih kawasan Malioboro. Bulan depan bisa saja temanya soal budaya atau seni," katanya.


Patrick, turis asal Swiss yang terkaget-kaget melihat wajah baru Malioboro. Foto: MTVN/Patricia Vicka

Salah seorang wisatawan asal Swiss Patrik(50) merasakan sensasi berbeda dengan keadaan Malioboro hari ini. Ia sudah sering mengunjungi Malioboro ini sejak tahun 1980. "Saya seperti melihat suasana tahun 80-an di mana belum Banyak pedagang kaki lima becak dan andong di sini," ujar pria ini dengan bahasa Inggris kepada Metrotvnews.com.

Sementara Vina salah seorang wisatawan asal Jakarta merasa bingung dengan perubahan suasana di Malioboro. Di satu sisi ia senang dengan pedestrian Malioboro semakin tertata rapi. Namun ia bingung mencari makanan dan minuman di pedestrian ini.
"Saya haus. Biasanya banyak mas-mas asongan yang juaalan es teh disino. Tapi bagus juga sih jadi lebih rapih dan bersih i," kata Vina.


(SUR)