Kemarau, Warga Yogya Mulai Beli Air

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 19 May 2017 17:18 WIB
kemarau
Kemarau, Warga Yogya Mulai Beli Air
Seorang warga Gunungkidul saat mengambil air di lokasi penampungan. (MTVN-Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Musim kemarau sudah terjadi di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Dusun Piyuyon, Desa Pancarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, warga mulai kesulitan memperoleh air. 

Sumadi, warga Dusun Piyuyon, mengatakan, warga di tempatnya sebagian sudah mulai membeli air beberapa hari terakhir. Air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga itu dibeli dari tangki milik pihak swasta. 

Ia mengungkapkan, kebutuhan air yang biasanya dipenuhi dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Handayani sudah tidak bisa lagi. "Air dari PDAM sudah dua minggu ini mati," ujarnya Jumat, 19 Mei 2017. 

Sumadi berujar, warga biasanya membeli air dari tangki perusahaan swasta langsung dengan ukuran 5 ribu liter. Air tersebut ditarif berdasarkan jarak rumah dengan jalan raya. Rata-rata warga mengeluarkan uang Rp120 ribu hingga Rp200 ribu untuk membeli air. 

Ia memperkirakan sebagian warga yang sudah membeli air biasanya memiliki banyak anggota. "Air yang dibeli kadang bisa dipakai selama dua sampai tiga minggu," jelasnya. 

Sebagai daerah kawasan karst, masyarakat Gunungkidul banyak yang mengandalkan air hujan di tempat Penampungan Air Hujan atau PAH. PAH yang memiliki ukuran besar biasa dipakai untuk mencukupi air sebagai kebutuhan dasar, dari mencuci sampai memasak. 

Meskipun, ada pula yang mengandalkan air dari PDAM. "Di sini saluran PDAM ada empat lokasi. Jika sudah masuk kemarau debitnya jauh berkurang," kata dia. 

Direktur Utama PDAM Tirta Handayani Gunungkidul, Isnawan Febriyanto menuturkan saluran air PDAM belum bisa menjangkau semua rumah warga. Menurutnya, kondisi geografis menjadi salah satu kendala pemasangan pipa itu. 

Namun, kata dia, kebutuhan air warga diperkirakan bisa terpenuhi karena salah satu sumber air yang diambil PDAM, yakni di Bribin, memiliki debit besar. "60 persen wilayah Gunungkidul sudah teraliri air dari PDAM, 30 persen airnya dari pengelolaan masyarakar, dan sisanya pakai sumber mata ait di dekat kampung," katanya. 

Khusus wilayah Dusun Piyuyon, ia mengakui ada kendala penyaluran air karena pompa mengalami kerusakan. Ia memperkirakan PDAM segera bisa mengaliri air selepas ada perbaikan pompa. 



(ALB)