Ladang Warga Penolak Bandara NYIA Diratakan

Ahmad Mustaqim    •    Kamis, 28 Jun 2018 17:19 WIB
sengketa tanahbandara
Ladang Warga Penolak Bandara NYIA Diratakan
Warga terdampak bandara saat menjaga lahannya.

Kulon Progo: PT Angkasa Pura I meratakan tanah atau land clrearing di area rencana proyek pembangunan bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA), Kamis, 28 Juni 2018. Land clearing itu dilakukan di ladang warga di Dusun Sidorejo, Desa Galgah, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo. 

PT Angkasa Pura mengerahkan ratusan aparat untuk meratakan ladang warga dengan alat berat. Sebanyak 12 alat berat itu menghancurkan tanaman kelapa hingga tanaman cabai.

Langkah land clearing itu mendapat reaksi penolakan warga yang masih bertahan dan menolak proyek bandara. Sejumlah warga bersikeras menolak proyek bandara dan merasa tidak pernah menjual lahannya. 

Wagirah, seorang warga, menjadi salah satu yang berteriak di tengah proses land clearing. Ia berulang kali memekikkan penolakan untuk mempertahankan tanaman cabainya itu, kemudian disingkirkan aparat. 

"Ini tanaman saya buat biaya anak saya sekolah. Orang tua saya sudah tua," pekik Wagirah.

Wagirah mempertanyakan apakah kesalahannya sehingga lahannya dirusak. Ia merasa sebagai warga negara Indonesia seharusnya mendapat perlindungan dari aparat. 

"Aku iki jagani tanduranku ndak koe rusak. Polisi ora ngelindungi rakyat (saya ini menjaga tanaman saya nanti akan kamu rusak. Polisi tidak melindungi rakyat)," ucapnya. 

Warga lain, Sutrisno merasa sangat kecewa dengan perusakan itu. Ia juga merasa sudah berkali-kali menyatakan tidak menjual lahan dan tanamannya. "Sebentar lagi mau panen, tapi kok dirusak," katanya. 
 
Kapolres Kulon Progo, AKBP Anggara Nasution menyatakan ada sekitar 500 pasukan gabungan yang dikerahkan untuk menjaga land clearing itu. Baik dari kepolisian, TNI, hingga Satpol PP. 

"Kami juga melibatkan Polwan dan meminta tidak membawa senjata api dan senjata tajam. Kami imbau melakukan tindakan persuasif," katanya. 



(ALB)