Pemkot Yogya Pastikan Siswa tak jadi Korban Konflik Yayasan

Patricia Vicka    •    Senin, 24 Jul 2017 13:37 WIB
pendidikan
Pemkot Yogya Pastikan Siswa tak jadi Korban Konflik Yayasan
Para siswa SD Bhinneka Tunggal Ika mendapat sambutan Wakil Wali Kota Yogya Heroe Poerwadi di sekolahnya. (Metrotvnews.com/Patricia Vicka)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Konflik internal Yayasan Bhinneka Tunggal Ika belum rampung. Pemerintah Kota Yogyakarta akan memediasi dan memantau penyelesaian konflik agar tak mengganggu kegiatan belajar mengajar siswa.

Wakil Wali Kota Yogya Heroe Poerwadi menegaskan akan segera mempertemukan pengurus yayasan, guru, serta orang tua murid. Tujuannya untuk menemukan solusi.

Heroe juga menegaskan para pihak yang berkonflik telah menjamin kalau kegiatan belajar mengajar tidak bakal terganggu. "Saat masalah selesai, yayasan, dan sekolah akan mengedepankan peningkatan kualitas belajar," ujar Heroe usai menyambut kedatangan kembali siswa ke gedung sekolah BTI di jalan Kranggan, Nomor 11A kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, Senin, 24 Juli 2017.

Sejak hari pertama sekolah, Senin, 17 Juli 2017, siswa sekolah BTI menggunakan kediaman salah satu kerabat Keraton Yogyakarta, KRT Poerbokusumo, di Ndalem Notoprajan, jalan KH Agus Salim. Gara-garanya, gedung sekolah dikunci.

Baca: Murid Sekolah Bhineka Tunggal Ika Telantar karena Konflik Yayasan

Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kota Yogyakarta, Edy Heri Suasana mengatakan pihaknya menjamin para siswa tidak akan pindah ruang belajar kembali. Pengawas sekolah akan diturunkan untuk memantau perkembangan penyelesaian konflik. 

Dewan Pembina Yayasan Bhinneka Yogyakarta, Mustofa memastikan tidak akan ada pemecatan guru dan yayasan. Ia berjanji konflik tidak akan menganggu kegiatan belajar mengajar.

Baca: Siswa Sekolah Bhinneka Tunggal Ika Kembali Belajar di Gedung Sekolah

"Tidak ada (pemberhentian). Semua masih guru dan karyawan di sini. Murid juga tetap murid kami. Tapi manajer operasional harian sudah anti. Biasa, kan, yang namanya reposisi pasti ada untuk kebaikan manajemen," tegasnya. 

Mustofa menambahkan persoalan bermula saat yayasan memberhentikan manager sekolah. Tujuannya agar ada peningkatan jumlah siswa serta kualitas sekolah. Ia menegaskan tidak pernah mengunci sekolah atau melarang siswa atau guru untuk masuk ke area sekolah.


(SAN)