Anak Tanpa Akta Lahir Rawan Dipedagangkan

Patricia Vicka    •    Jumat, 29 Dec 2017 16:04 WIB
Anak Tanpa Akta Lahir Rawan Dipedagangkan
Ilustrasi -- ANT/Asep Fathulrahman

Magelang: Anak-anak tanpa akta kelahiran rawan menjadi korban perdagangan manusia. Pasalnya, anak tanpa akta tidak memiliki perlindungan hukum yang kuat sehingga mudah diperdagangkan.

"Hampir 100% korban trafficking tidak punya akta kelahiran," kata Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N. Rosalin di Magelang, Jawa Tengah, Jumat, 29 Desember 2017.

Menurut Leny, saat ini masih ada tujuh provinsi dan 17 kabupaten/kota di Indonesia dengan cakupan akta kelahiran terendah. "Ini jadi pekerjaan rumah kita bersama, bagaimana supaya semua anak bisa punya akta," tegasnya.

Pemerintah, lanjut Leny, kini tengah gencar jemput bola ke masyarakat agar seluruh anak Indonesia memiliki akta kelahiran. Ia juga berpesan agar Pemerintah Kota Magelang segera menuntaskan kepemilikan akta anak.

"Masih ada sekitar 8 persen anak di Kota Magelang yang belum memiliki akta," ujar Leny.

Kepala Disdukcapil Kota Magelang Hartoko menyanggupi hal tersebut. Ia menargetkan, 2018 seluruh anak di Magelang memiliki akta kelahiran.

"Pada 2017 sudah 97 persen anak di Magelang memiliki akta. Ini di atas rata-rata nasional yang hanya 70 persen. Kalau 2016, baru 34 persen yang punya akta," jelasnya.

Guna mencapai target tersebut, kata Hartoko, pihaknya akan turun ke lapangan dan jemput bola hingga tingkat RT dan RW. Ada petugas khusus yang langsung melaporkan ke Disdukcapil ketika ada ibu hamil bersalin.
(NIN)