Keahlian Warisan Lampu dari Gunungkidul Tembus Pasar Eropa

Ahmad Mustaqim    •    Senin, 20 Nov 2017 10:28 WIB
bisnis
Keahlian Warisan Lampu dari Gunungkidul Tembus Pasar Eropa
Muhamad Nurul Huda sedang merapikan kerangka lampu hias, Minggu 19 November 2017, MTVN - Ahmad Mustaqim

Yogyakarta: Muhamad Nurul Huda, warga Dusun Garotan, Desa Bendung, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sibuk memasang elemen lampu berbahan dasar aluminium. Ia memasang kap lampu yang biasanya banyak dipakai di rumah-rumah tradisional Jawa berbentuk joglo. 

Kebanyakan, lampu yang seperti diproduksi Huda merupakan lampu hiasan. Yang tak biasa, Huda membuatnya dengan memanfaatkan bahan dasar aluminium bekas. 

Huda menuturkan pembuatan lampu tersebut semula dilakukan ayahnya, Rusmani pada medio tahun 1980-an. Rusmani ketika itu bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik pengecoran aluminium. 

"Bermodal pengalamannya, Bapak memproduksi beragam kerajinan, mulai dari lampu taman, meja, dan kursi. Saya di sini jadi generasi kedua," ujar Huda di Gunungkidul pada Minggu, 19 November 2017. 

Huda, dibantu sejumlah tenaga kerja, membuat lampu-lampu unik dengan cara tradisional. Alumunium dibuat dengan memanfaatkan aluminium bekas. 

Aluminium bekas tersebut dicairkan lebih dulu dengan cara membakarnya pada suhu 600 derajat celcius. Pembakaran dilakukan selama 1,5 jam hingga alumunium berubah menjadi cair. Cairan alumunium tersebut kemudian dimasukkan ke dalam percetakan sesuai motif yang disiapkan. 

Setelah alumunium tercetak, kerangka lampu dilakukan proses perapian secara manual. "Ini untuk menjaga kualitas bentuknya," kata dia. 

Meski pembuatan lampu secara tradisional, Huda mampu menjangkau pemasaran ke berbagai kota di Indonesia. Ia menyebut sejumlah pasar yang telah ia jangkau yakni Bandung, Bali, Jakarta, hingga Mataram dan Sulawesi. 

Tak hanya di dalam negeri, lampu hias tersebut juga menjangkau pemasaran hingga ke luar negeri. Di Asia, lampu dipasarkan ke Singapura, Malaysia, serta Brunei Darussalam. 

"Untuk Eropa, sampai Belanda dan Yunani," tuturnya. 

Huda menjual lampu hias dengan kisaran harga Rp450 ribu hingga Rp18 juta per buahnya. Hal itu tergantung pada ukuran dan tingkat kesulitas proses pembuatan. 

"Kita membuat sesuai pesanan. Tiap bulan rata-rata 50-100 unit. Pemasaran kami lakukan dengan ikut pameran dan pakai sosial media," ungkapnya. 

Hingga kini, Huda memiliki sembilan pegawai tetap. Jika pesanan banyak, ia biasanya menambah empat orang tambahan. Seluruh tenaga kerja ia ambil dari lingkungan sekitar. 

Ali Mahmudi, salah seorang pekerja bidang peleburan alumunium, mengaku para pekerja biasa kewalahan menuruti pesanan. Padahal pihaknya sudah bekerja selama belasan tahun. 




(RRN)