Sopir: Injak Marka Jalan di Gunungkidul Rp100 Ribu

Ahmad Mustaqim    •    Rabu, 16 Nov 2016 16:58 WIB
pungutan liar
Sopir: Injak Marka Jalan di Gunungkidul Rp100 Ribu
Foto ilustrasi. (Ant/Rudi Mulya)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Seorang sopir agen perjalanan wisata di Yogyakarta, kesal saat mengantar pelancong ke Kabupaten Gunungkidul. Bukan pada perusahaan, Rusli kesal pada petugas polisi lalu lintas.

Lelaki 30 tahun ini geram saat polisi menghentikan laju kendaraannya. Dia menuding, polisi mencari-cari kesalahannya untuk melakukan tindakan.

Rusli mengatakan, peristiwa itu terjadi saat melintas di kawasan hutan Wanagama, Kecamatan Playen. Ketika itu, Rusli yang mengendarai mobil jenis Toyota Hiace, ditilang polisi dengan dimintai uang Rp100 ribu.

"Dimintai uang, tapi tidak diberikan bukti tilang lagi," kata Rusli kepada Metrotvnews.com, Rabu (16/11/2016).

Menurutnya, saat itu ia dianggap melanggar marka jalan ketika melintas di kawasan Hutan Wanagama. Namun, ia mengaku saat itu posisi mobil yang dikemudi hanya berada di atas garis marka tanpa putus, tidak sampai melebihi garis marka.

"Tapi, waktu itu tetap dikejar polisi, ngotot kalau aku melanggar marka jalan atau melewati garis marka," ucapnya.

Ia menyebutkan, kawasan hutan Wanagama memang dinilai wilayah yang harus hati-hati bagi sopir untuk mengemudi. Istilah yang familiar di kalangan sopir, jika midak telek (menginjak kotoran) akan ditilang. Midak telek dalam hal ini adalah jika posisi ban mobil menginjak garis marka dan ada polisi, akan ditilang.

"Seperti dicari-cari kesalahannya, tidak posisi menyalip juga. Padahal kalau tidak melewati garis marka kan tidak pelanggaran harusnya," kata dia.

Menurut Rusli, banyak sopir yang telanjur midak telek yang kemudian membayar tilang ke polisi. Sopir, lanjutnya, terpaksa membayar uang karena enggan berurusan panjang di lapangan.

Meski menuding kena tilang, Rusli enggan menyebut ciri-ciri polisi yang melakukan pungli.

Direktur Lalu Lintas Polda DIY, Kombes M. Ritonga mengatakan tilang yang dilakukan polisi pasti disertai kertas sebagai bukti. Jika tidak, ia mempersilakan orang tersebut mengingat identitas petugas yang ada di lapangan.

"Tapi jika melanggar dan tak setuju, silakan dibuktikan di pengadilan," ungkapnya.


(SAN)