Puluhan Pelajar Terjaring Razia Saat Nongkrong di Pantai

Kuntoro Tayubi    •    Selasa, 15 Nov 2016 17:47 WIB
razia
Puluhan Pelajar Terjaring Razia Saat Nongkrong di Pantai
Satpol PP jaring pelajar bolos sekolah di Tegal, Jawa Tengah. Foto: Metrotvnews.com/Kuntoro Tayubi

Metrotvnews.com, Tegal: Puluhan pelajar dari sejumlah sekolah negeri dan swasta ditangkap petugas Satpol PP Pemkab Tegal, Jawa Tengah, lantaran membolos. Mereka terjaring razia saat sedang nongkrong di pantai Larangan, Munjungagung, Kramat, dan pusat keramaian.

"Terbanyak di pantai. Dan sebagian di warung internet (warnet) serta pusat keramaian," kata Kepala Satpol PP Pemkab Tegal, Zaenal Arifin, di sela-sela razia, Selasa (15/11/2016).

Razia menyasar di berbagai tempat seperti kawasan GOR Trisanja Slawi, pusat keramaian, warung makan, warung internet, dan di wilayah pantura. Jumlah pelajar yang ditangkap 21 orang.

Mereka berasal dari sejumlah sekolah kejuruan swasta di Kota Tegal dan Pemalang, serta Kabupaten Tegal. Selain pelajar SMK, pihaknya juga menangkap pelajar SMP. Bahkan, ada dua pelajar putri yang terpaksa dibawa karena berada di luar sekolah saat jam pelajaran berlangsung.

"Mereka kami amankan dan kami bina. Selain itu, mereka juga wajib membuat surat pernyataan untuk tidak mengulanginya lagi," ujarnya.

Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib), Suyoto, menambahkan, razia ini merupakan agenda rutin. Razia dilakukan berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 tahun 2011 tentang Ketertiban Umum.

Perda itu menyebutkan, setiap pelajar dilarang berada di luar sekolah saat jam pelajaran. Kecuali, ada kepentingan dari sekolah dan disertai dengan surat pengantar atau surat tugas dari sekolah.

“Razia ini juga menindaklanjuti aduan dari masyarakat lewat salah satu media cetak,” katanya.

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Tegal, Agus Salim, mengatakan ada banyak alasan yang melatarbelakangi siswa membolos. Mulai dari tidak menyukai guru pada mata pelajaran yang diajarkan, tidak adanya minat pada pelajaran yang diajarkan, hingga jenuh terhadap sistem pembelajaran.

"Guru harus bisa menangani hal ini. Jangan biarkan siswa membolos. Jika mereka jenuh dengan sistem pembelajaran, maka ubahlah sistemnya. Guru harus bisa berkomunikasi dengan siswa," kata Agus.



(UWA)